Pemerintah Diminta Tegas Larang Iklan Rokok, Demi Masa Depan Anak Indonesia

0
158

 

Balinetizen.com, Denpasar

Ketua IAKMI Bali, Made Dian Kurniasari, menekankan pentingnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) untuk mengingatkan masyarakat akan bahaya paparan asap rokok serta perilaku merokok dini pada anak dan remaja. Masalah merokok memerlukan perhatian serius demi mewujudkan generasi emas dan pencapaian bonus demografi 2045.

“Dukungan berbagai pihak serta komitmen pemerintah yang serius terhadap implementasi berbagai kebijakan pro-pengendalian rokok sangat diharapkan. Terlebih di tengah gempuran dan rayuan industri rokok yang menjadikan anak dan remaja sebagai target pemasaran produk tembakau di Indonesia,” ungkapnya pada Minggu, 2 Juni 2024.

Ketua Udayana CENTRAL, dr. Putu Ayu Swandewi Astuti, MPH, juga mengungkapkan bahwa berbagai kajian kesehatan menunjukkan bahaya merokok yang berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat, perekonomian, dan kemiskinan, termasuk situasi stunting. Hal ini seharusnya menggugah pemerintah untuk lebih serius dalam pengendalian tembakau di Indonesia.

“Kami berharap upaya penyadaran masyarakat akan bahaya merokok terus ditingkatkan, serta pelarangan promosi dan iklan rokok yang menyesatkan harus dilarang total. Tema HTTS saat ini sangat relevan dengan permasalahan nyata yang kita hadapi, khususnya meningkatnya perilaku merokok dini yang terus bertambah setiap tahun. Ini memerlukan perhatian, kerjasama, dan dukungan dari semua pihak,” tandasnya.

Sebagai informasi, Pemerintah Indonesia baru saja mengeluarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang menunjukkan prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun kini mencapai 7,4 persen. Angka ini turun dari prevalensi di Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 sebesar 9,1 persen, dan di bawah target penurunan RPJMN 2020-2024 sebesar 8,7 persen.

Namun, penurunan prevalensi perokok anak menurut SKI 2023 belum tentu mencerminkan keberhasilan program pengendalian tembakau secara keseluruhan. Prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun sebesar 7,4 persen pada 2023 tetap menunjukkan kenaikan dibandingkan data Riskesdas 2013 sebesar 7,2 persen. Perbedaan 0,2 persen ini tetap signifikan mengingat jumlah populasi anak usia 10-18 tahun meningkat cukup signifikan dalam sepuluh tahun terakhir.

Baca Juga :  KPU Jembrana Kekurangan Ratusan Bilik Suara

Dengan populasi saat ini, prevalensi 7,4 persen menunjukkan bahwa lebih dari tiga juta anak Indonesia adalah perokok aktif yang mengonsumsi produk zat adiktif baik rokok konvensional maupun rokok elektronik.(Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here