Balinetizen.com, Buleleng
Upaya Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam memberikan ruang yang inklusif bagi seluruh masyarakat turut diwujudkan dalam pelaksanaan Buleleng Festival, khususnya di zona Buleleng Digital Expo (BDE), bertempat di RTH RJ Bupati Buleleng, Sabtu, (22/8). Tidak hanya menjadi ruang untuk memperkenalkan teknologi dan inovasi digital, BDE juga menjadi wadah bagi anak berkebutuhan khusus untuk menunjukkan kemampuan, berkarya, sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Salah satunya melalui kehadiran SLB Negeri 1 Buleleng yang membawa berbagai hasil karya siswa, mulai dari produk sablon hingga kerajinan hasil keterampilan menjahit. Kehadiran mereka di BDE menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk membangun kemandirian, keterampilan, dan kepercayaan diri siswa.
Guru SLB Negeri 1 Buleleng, Wayan Susiani, mengatakan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga pada keterampilan hidup (life skill) yang dapat mendukung kemandirian mereka.
“Di SLB yang kami utamakan adalah kemandirian anak. Banyak life skill yang kami ajarkan, seperti sablon dan menjahit. Yang menjadi unggulan kami sekarang adalah sablon,” ujar Wayan Susiani.
Menurutnya, keterampilan sablon telah dikembangkan secara serius di SLBN 1 Buleleng. Sekolah juga telah menjalin kerja sama dengan pihak terkait untuk memberikan pengalaman praktik kepada siswa. Bahkan, SLBN 1 Buleleng menjadi salah satu pusat pelatihan bagi guru dari SLB lainnya dalam pengembangan keterampilan tersebut.
“Anak-anak dilatih untuk sablon dan kami juga sudah memiliki alatnya. Bahkan guru-guru dari SLB lain juga berlatih di sekolah kami, sehingga kami menjadi semacam center,” jelasnya.
Menariknya, kehadiran SLBN 1 Buleleng di zona BDE tidak hanya sebatas memamerkan produk. Para siswa juga diberikan kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan masyarakat, memperkenalkan hasil karya, hingga belajar bagaimana menarik minat pengunjung.
Pengunjung juga diajak mengenal komunikasi melalui bahasa isyarat. Melalui aplikasi yang tersedia di stan, masyarakat dapat mengikuti tantangan bahasa isyarat sekaligus belajar berkomunikasi dengan teman-teman tunarungu.
“Tujuan kami supaya anak-anak bisa berbaur dengan masyarakat umum. Mereka bisa berkomunikasi, meskipun melalui bahasa isyarat, ekspresi maupun membaca gerak bibir,” ungkapnya.
Menurut Wayan Susiani, kesempatan tampil di ruang publik seperti BDE memberikan pengalaman penting bagi siswa. Interaksi secara langsung dengan masyarakat secara perlahan membantu mereka membangun keberanian dan rasa percaya diri.
“Awalnya ada yang malu, tetapi lama-lama mereka enjoy. Karena setiap hari kami sudah melatih bagaimana mereka berinteraksi,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, SLBN 1 Buleleng menugaskan siswa dan guru secara bergiliran untuk menjaga stan. Siswa yang dilibatkan merupakan peserta didik dengan hambatan pendengaran yang telah mendapatkan pembelajaran bahasa isyarat dan komunikasi sebagai bagian dari keterampilan mereka.
Wayan Susiani berharap semakin banyak ruang publik yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk menunjukkan potensi yang dimiliki. Menurutnya, keterbatasan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengesampingkan kemampuan seseorang.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memberikan kesempatan yang lebih luas, termasuk dalam dunia kerja, kepada penyandang disabilitas yang telah memiliki keterampilan.
“Jangan underestimate anak-anak berkebutuhan khusus. Di balik kekurangan mereka, banyak sekali kelebihan yang mereka miliki. Kalau kita mau melatih dan memberikan ruang, mereka bisa menunjukkan kemampuan,” tegasnya.
Kehadiran SLBN 1 Buleleng di zona Buleleng Digital Expo menjadi salah satu gambaran bahwa transformasi digital dan pembangunan tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi dan ruang publik dapat menjadi jembatan untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat.
Melalui BDE, Pemkab Buleleng terus mendorong terciptanya ruang yang terbuka dan inklusif, sehingga anak berkebutuhan khusus tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkarya, berinteraksi, dan menunjukkan potensi sebagai bagian dari masyarakat Buleleng. GS

