Penanganan Stunting Melalui Pendekatan Holistik dan Terintegrasi

0
187

 

Balinetizen.com, Buleleng

Penurunan stunting di Buleleng terus di lakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng dalam pencapaian nol kasus. Salah satunya, melalui kegiatan laporan akhir Penyusunan Kajian Strategi Kebijakan Penanggulangan Stunting Melalui Pendekatan Holistik dan Terintegrasi di Kabupaten Buleleng.

Kegiatan yang digelar di Gedung Seminar Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Undiksha Singaraja pada Senin, (15/5/2023) itu, dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Buleleng, Gede Suyasa, yang dibuka oleh Ketua Tim Pelaksana Penyusunan Kajian Stunting Made Sugi Hartono.

Dalam kesempatan itu, Sekda Suyasa Menyampaikan begitu indeks yang valid dan kuat maka data stunting di Kabupaten Buleleng akan efesien, tidak salah sasaran, dan tidak salah penanganan.

“Stunting tidak akan berhenti jika tahun depan Pemerintah tidak responsif secara masif akan muncul lagi jika ingin bertahan di angka kecil dengan melalukan cara yang lebih intens.” pungkasnya.

Sementara itu, Sugi Hartono menyampaikan Tahun 2021 Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) merilis data tentang prevalensi stunting di angka 24,4 persen atau 5,33 juta jiwa. Dalam hal ini, pihak oemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting sebanyak 3 sampai 3,5 persen tiap tahunnya. Sehingga pada Tahun 2024 dapat memenuhi di angka 14 persen.

“Jumlah kasus stunting di Kabupaten Buleleng paling tinggi di Kecamatan Banjar, sedangkan stunting paling rendah di Kecamatan Gerokgak. Faktor penyebab pada desa dengan kasus sedang dan tinggi stunting yaitu penghasilan dibawah UMR, tidak mendapat MPASI baik, rumah berdampingan dengan kandang hewan, tidak mendapatkan ASI ekslusif, tidak memiliki BPJS, dan tidak memiliki sarana MCK yang baik.” tutupnya. (RED-BN)

Baca Juga :  Gubernur Koster Ikuti Peringatan Detik-Detik Proklamasi Istana Merdeka Secara Daring

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here