Pengamat : Skandal di Bursa Efek Indonesia Tantangan Kabinet Merah Putih untuk Bisa Bertahan Tahun 2026

0
400

Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi

Balinetizen.com, Jakarta

Skandal dalam Bursa Efek Indonesia, Tantangan bagi Kabinet Merah Putih untuk Bisa Bertahan tahun 2026.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi, Minggu 1 Februari 2026.

Menurutnya, setelah IHSG turun berurutan 2 hari sekitar 8 persen, bersaman peringatan dari perusahaan layanan global MSCI (Morgan Stanley Capital Internasonal) agar manajemen Bursa memperbaiki transparansi dari perusahaan anggota Bursa, Presiden Direktur Bursa Efek Indonesia, 3 pejabat OJK, 2 ketua dan 1 pejabat pengawas Bursa rame-rame mengundurkan diri.

“Timbul pertanyaan, kira-kira berapa keuntungan para pemain dalam “goreng-menggoreng” saham dalam tahun 2025, para pemain yang tahu secara penuh dinamika gerak bursa-insider trading- dan juga sudah tentu “bermain mata” dengan otoritas bursa plus pengawas Bursa baca OJK,” katanya.

Diberitakan Kompas (29/1), indeks Bursa per 31 Desember 2025 22,13 persen di level Rp.8,646,94, sedangkan berdasarkan kumpulan saham MSCI Indonesia justru minus 3 persen. Ada selisih 25,13 persen.

Dikatakan, dengan transaksi Bursa per hari sekitar Rp.7 T, dan tindakan “goreng-menggoreng” saham berlangsung sebut saja setiap kuartal, 3 kali dalam tahun 2025. Para pelaku Bursa yang tidak bertanggung-jawab ini dalam 2025 dapat meraup untung: 25,3 % × 3 × Rp.7 T = Rp.5,2 T dalam tahun 2025.

“Siapa pemain Bursa yang bermain, tantangan bagi penegak hukum untuk menyelidiki,” katanya.

Dikatakan, Bursa Efek Indonesia (BEI) harus diselamatkan, melalui aturan hukum ketat, otoritas bursa punya integritas dan Bursa menjadi kredibel di hadapan pelaku pasar global.

Menurut Jro Gede Sudibya, momentum KKSK (Komite Kerja Stabilitas Keuangan) yang dipimpin Menkeu, dengan anggota: Menkeu, Gubernur BI, Ketua OJK dan Ketua LPS untuk segera berbenah.

Dikatakan, tantangan bagi KKSK (Komite Kerja Stabilitas Keuangan) yang diketahui oleh Menkeu, dengan anggota Gubernur BI, Ketua OJK, Ketua LPS untuk melakukan pembenahan segera terhadap Bursa Efek Indonesia, sehingga grade BEI tidak mengalami penurunan dengan risiko ditinggalkan oleh investor global skala besar.

Baca Juga :  Kabar Duka, Babinsa Kelurahan Kesiman Serma Junianto Moka Berpulang

Risiko keuangan berikutnya, kata Jro Gede Sudibya adalah pemain global di pasar uang pembeli obligasi pemerintah yang “trust” sudah menurun akan kembali meninggalkan pasar uang Indonesia.

Menurutnya, risiko lanjutannya,credit rating Indonesia bisa turun, suku bunga pinjaman luar negeri naik, investor luar negeri di sektor riil menunda investasinya, yang ke semuanya berdampak semakin tertekannya nilai rupiah.

Ke depan, lanjut Jro Gede Sudibya, APBN 2026 menjadi pertaruhan bagi keberlanjutan Kabinet Merah Putih.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here