Balinetizen.com, Jembrana –
Kebutuhan akan daging sapi dipasaran mengalami peningkatan, selain untuk pemenuhan hewan kurban. Seiring kebutuhan dalam pengembangan sapi sejumlah peternak belakangan beralih ke pola koloni atau kelompok. Salah satunya oleh Dewa Aji Ginar.
Peternak sapi asal Kelurahan Dauhwaru, Kecamatan Negara ini sebelumnya memelihara indukan sapi betina dengan harapan anak sapi (godel) bisa dengan segera dijual. Namun belakangan ia mengkhususkan memelihara sapi jantan. Termasuk merubah pola pemeliharaan menjadi berkelompok atau koloni.
Dengan pola pemeliharaan menyerupai sapi kereman diyakini bisa lebih cepat menghasilkan dan juga mudah dalam pengadaan pakan. Karena lebih banyak menggunakan pakan buatan ketimbang alami. Dengan pola ini dalam kurun waktu 6 bulan sampai 8 bulan sapi sudah siap dijual.
“Ini persiapan panen kedua. Tahun lalu kita sudah panen. Ada lima ekor yang dijual” ujar Ajik Ginar ditemui saat memberi makan sapi-sapinya belum lama.
Memelihara sapi jantan sudah dilakoninya sekitar dua tahun lebih. Dari semula empat ekor kini di dua blok kandangnya dipelihara 12 ekor sapi jantan. Sapi-sapi berumur kisaran 6 bulan sampai 1,5 tahun ini ia pelihara bersama satu orang pekerja.
“Peluangnya lebih menjanjikan. Makanya saya beralih kesistem koloni sapi jantan” ungkapnya.
Dengan pola koloni disebutnya bisa lebih banyak memelihara sapi. Hanya saja terkendala bibit pejantan karena jarang dijual dipasaran dan harganya juga yang lumayan mahal. “Yang dicari yang benar-benar siap dan sudah disapih dari indukannya” imbuhnya.
Sedangkan terkait pakan karena untuk keperluan pedaging sehingga tidak membutuhkan rumput terlalu banyak. Namun cukup diberikan pakan buatan. Seperti campuran konsentrat dengan dedak atau dengan ampas tahu dan juga dedaunan. “Harganya murah, juga mudah didapat” tutup Ajik Ginar yang juga penghobi ikan koi. (Komang Tole)

