Perang AS-Iran, Ekonom Ingatkan Risiko Berat bagi Ekonomi Indonesia

0
256

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

Pengamat ekonomi Jro Gde Sudibya menyoroti potensi dampak serius terhadap perekonomian Indonesia menyusul penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat beserta sekutunya melawan Iran.

Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, khususnya untuk distribusi minyak mentah ke pasar China dan Eropa. Penutupan jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak global yang pada akhirnya berdampak ke dalam negeri.

“Minyak mentah yang melewati Selat Hormuz sebagian besar ditujukan ke China dan Eropa. Jika jalur ini tertutup, harga minyak dunia hampir pasti naik, dan imbasnya harga barang impor dari kedua kawasan tersebut juga akan ikut melonjak,” kata Sudibya, dalam keterangannya Selasa (2/3/2026).

Ia menjelaskan, meskipun impor minyak mentah Indonesia sekitar 2 juta barel per hari diperkirakan tidak seluruhnya berasal dari negara-negara Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz, kelangkaan pasokan di pasar global tetap akan memukul Indonesia dari sisi fiskal.

“Indonesia mau tidak mau harus menyediakan dana impor yang lebih besar. Ini akan menambah beban subsidi BBM dalam APBN 2026, yang kondisinya sudah sangat ketat dengan defisit yang terus membesar,” ujarnya.

Sudibya juga memperingatkan potensi lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi. Tekanan inflasi ini bersifat cost push inflation, di mana kenaikan biaya produksi akan mendorong harga barang dan jasa secara luas.

Dalam situasi tersebut, ia menilai pemerintahan Kabinet Merah Putih yang baru berusia sekitar satu tahun harus segera menyiapkan langkah antisipatif.

“Pemerintah harus menyusun contingency plan yang serius jika krisis ekonomi global membesar. Baik dari sisi kebijakan fiskal maupun moneter, jangan sampai kedodoran,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar Presiden Prabowo Subianto lebih memprioritaskan penyelamatan ekonomi nasional dibanding ambisi geopolitik internasional.

Baca Juga :  WHDI Tabanan Diharapkan Mampu Menjadi Inspirasi Keluarga dan Masyarakat yang Bertanggungjawab

“Menjadi penengah konflik Timur Tengah itu penting, tetapi stabilitas ekonomi dalam negeri jauh lebih mendesak,” ujarnya.

Sudibya menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026 akan semakin sulit tercapai apabila konflik berkepanjangan. Pemerintah juga diminta mewaspadai lonjakan harga menjelang Hari Raya Idulfitri.

“Menjelang Lebaran, diperkirakan 144 juta orang akan mudik. Jika harga BBM dan kebutuhan pokok naik tajam, dampaknya akan sangat terasa di masyarakat,” pungkasnya.(ids)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here