Perang Eksplosif AS – Israel VS Iran, Tekanan terhadap Ekonomi Nasional dan Industri Pariwisata Bali

0
257

 

Balinetizen.com, Denpasar

Bagi industri pariwisata Bali, dengan perang Eksplosif AS – Israel VS Iran, penerbangan Asia-Eropa sangat terganggu dan bahkan ada risiko akan berhenti, karena penerbangan ini melewati wilayah konflik yang panas, jalur udara yang melintasi Iran.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, Minggu 1 Mare 2026.

Dikatakan, perang yang berlangsung sangat eksplosif, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh oleh serangan tentara Israel yang didukung AS, Sabtu, 28 Februari 2026.

Menurutnya, dalam sejarah Perang Dunia Pertama dan Kedua, kasus pemicu Perang (casus belli), terbunuhnya pemimpin terpandang di kawasan konflik sehingga perang meluas tanpa kendali.

Dikatakan, belajar dari Sejarah Perang Dunia Pertama dan Kedua, risiko Perang Dunia Ketiga mungkin saja terjadi. Juga dipicu oleh lemahnya PBB dalam mengelola konflik dan pemberian solusi, dan kekuatan dunia yang multi polar yang membuat resolusi konflik menjadi semakin sukar.

Menurut Jro Gede Sudibya, tantangan bagi ekonomi Indonesia dan industri pariwisata Bali sangatlah berat.

Dikatakan, dengan ditutupnya Selat Hormuz sebagai urat nadi distribusi minyak global, tekanan terhadap harga minyak naik, punya potensi mendorong inflasi, di tengah masyarakat kelas menengah bawah tertekan pendapatannya.

“Bisa terjadi inflasi yang tidak terkendali – run away inflation- yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi, berbarengan dengan kebijakan fiscal Kabinet Merah Putih yang tidak prudent (hati-hati), yang berakibat nilai rupiah terus mengalami tekanan, kepercayaan terhadap bursa yang merosot, plus pelaku usaha di pasar uang. Target pertumbuhan ekonomi 6 persen tahun 2026 sulit untuk dicapai,” katanya.

Dikatakan, tantangan lain adalah Bagi industri pariwisata Bali, dengan perang ini penerbangan Asia-Eropa sangat terganggu dan bahkan ada risiko akan berhenti, karena penerbangan ini melewati wilayah konflik yang panas, jalur udara yang melintasi Iran.

Baca Juga :  Kabid Humas : Tidak Benar ada Pesawat Hercules Jatuh di Papua

Dikatakan, wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali sekitar 28 persen dari total wisatawan mancanegara. Industri pariwisata Bali punya risiko mengalami tekanan, pendapatan industri pariwisata menurun, pengangguran bisa naik yang memicu angka kemiskinan.

Menurutnya, Pemda Bali mesti mengantisipasi potensi krisis, belajar dari krisis pandemi Covid-19 tahun 2020. Ekonomi Bali tumbuh negatif 9,3 persen, tumbuh negatif 3 persen tahun 2021.

Dikatakan, pengalaman dalam masa pandemi, kemiskinan bertambah, tetapi anggaran penanggulangan kemiskinan tidak naik secara signifikan. Dana PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) Rp.1,5 T dipergunakan mendanai Proyek PKB Klungkung.

“Mengantisipasi potensi krisis akibat perang AS – Israel VS Iran, Pemda semestinya menata ulang anggarannya, proyek pencitraan Rp.225 M semestinya dipangkas, bansos yang sarat muatan “politicking”, dialihkan untuk menanggulangi kemiskinan, dan program sosial yang melindungi kepentingan “wong cilik”,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here