Politik Kemanusiaan dari Gus Dur, Bukan Menebar Prasangka dan Kebencian

0
263

Oleh : Jro Gde Sudibya

Pemberian Medali Keberanian kepada Gus Dur oleh Yayasan Simon Wiesethal di Israel. Gus Dur Presiden ke 4 sebagai mantan Presiden hadir sebagai undangan dari Presiden Israel Simon Peres dalam sebuah konferensi internasional di Tel Aviv.

Beberapa catatan dalam pidato Gus Dur dalam penerimaan Medali Keberanian tsb.

1.Sebagai trah biru NU (cucu dari KH Hasyim Ashari, pendiri NU tahun 1926, putra dari KH.Wahid Hasyim, salah seorang Bapak pendiri republik, Menteri Agama pertama negeri ini) cendikiawan yang berpandangan sangat luas (lintas iman dan lintas negara bangsa), menghargai hak hidup bangsa Israel, dengan pilihannya sendiri, walaupun tindakannya ini, menurut Gus Dur banyak orang Indonesia marah karena ketidakmengertian dan ketidakpahaman.

2. Gus Dur menyampaikan tentang perjuangan tanpa pamrih, dan pentingnya kejujuran dan moralitas dalam berpolitik, yang menggambarkan politik kemanusiasn Gus Dur termasuk dalam mengelola isu terhadap negara Israel.

3.Gus Dur, sebagaimana pengakuannya dalam banyak kesempatan, bahwa dia adalah Gandhian (pengikut ajaran Gandhi) anggota kehormatan Gandhi Ashram di era 1990″an, Santi Dasa, Candi Dasa.

Pengikut Gandhi tentang politik nir kekerasan, berbasiskan moralitas, Ahimsa dan Dharma.
Orang sekaliber Gus Dur menaruh respek terhadap negara Israel, tetapi di sini di Bali, ada orang untuk kepentingan politik sempit (berambisi memperpanjang kekuasaan), dipersepsikan oleh publik menebar prasangka dan bahkan kebencian kepada Israel, dengan menafsirkan secara sembrono Pembukaan UUD 1945, di luar konteks zamannya, dengan motif yang diduga untuk memperpanjang kekuasaan, yang berakibat sangat fatal turnamen U20 batal berlangsung di Indonesia.
Gus Dur sebagai pejuang demokrasi yang humanis, sangat paham, setiap konflik apalagi antar bangsa yang mempunyai latar belakang sejarah yang rumit, tidak bisa diselesaikan dengan prasangka, kebencian dan bahkan dengan perang.
Semestinya penguasa di Bali belajar dari keteladan politik Gus Dur. Gus Dur pengikut Mahatma Gandhi, demikian juga Soekarno yang menyebut Gandhi adalah gurunya, masak kita orang Hindu tidak mau belajar dari Gandhi, negarawan Bapak Pendiri India sekaligus penafsir Veda/Vedanta.

Baca Juga :  Update Kasus Covid-19 di Denpasar, Hari ini Kasus Sembuh Bertambah 17 Orang, Kasus Positif Bertambah 16 Orang

Pengamat publik, Ketua Forum Penyadaran Dharma, mantan Anggota MPR RI Utusan Daerah Bali.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here