Balinetizen.com, Denpasar –
Hari ini Selasa, 4 November 2025 raina Anggarkasih Julungwangi “nemu” Purwaning Purnama Kelima Icaka 1947, lima belas hari menjelang Raina Galungan.Di tengah realitas Alam Bali yang mengalami darurat lingkungan, krisis kerusakan alam yang nyaris tak terpulihkan.
Simak saja kerusakan alam yang terjadi dan atau alih fungsi lahan yang terjadi di sejumlah DAS, Tukad: Ayung, Pakerisan, Telaga Waja, Sah, Tukad Unda. Kerusakan alam yang terjadi di empat danau: Batur, Beratan, Buyan, Tamblingan. Kerusakan, alih fungsi lahan di “jejer kemiri” Bukit di atas Kaldera Batur, yang dulu merupakan “gelembung”alam raksasa untuk melindungi Danau-Gunung Batur dari proses alami kerusakan. Dan kemudian raja Bali Mula Cri Aji Jayapangus menetapkan kawasan Cintamani sebagai kawasan meditasi untuk melindungi kawasan Danau-Gunung Batur dari prilaku pengerusakan oleh manusia.
Gunung Batur yang terus tergerus dari sisi fisik alam dan aura kesucian karena prilaku kegiatan wisata yang kebablasan, melanggar etika, mengabaikan keyakinan “Gunung Mraga Lingha Widhi”.
Penggerusan alam dari Labuan Sait sampai bukit Uluwatu dengan berbagai proyek wisata, demikian pula “serbuan” vila dan sejenisnya di kawasan Pura Dalem Nusa, Nusa Penida, memberikan penggambaran kerusakan alam Bali sudah begitu parah, dan bahkan nyaris tidak bisa lagi direhabilitasi.
Tantangan bagi kepemimpinan Bali dalam fenomena kerusakan alam yang nyaris tidak mampu dipulihkan, menyebut beberapa, pertama, kepemimpinan rokhani para pendeta semestinya semakin berbenah, untuk memberi tuntunan dan penyadaran berupa penegakan etika dan moral, “pageh ring sesana” tidak bisa lagi bisa diabaikan oleh umat Hindu seluruhnya. Kedua, kepemimpinan publik dan birokrasi lebih setia dalam menjalankan “dharma”nya, “manut ring sesana”, “satya wacana”,kembali sebagai pemberi suri teladan, sebelum terlambat,
alam bisa memberikan “hukuman”. Ketiga, prajuru Desa Pakraman pada lebih dari 1, 000 Desa Pakraman, lebih “trepti” menjaga lingkungan desanya, merawat kesuciannya dan tidak mudah tergoda dengan pragmatisme kehidupan, merujuk kata pepatah “sesal dulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna”.
Oleh : Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun, Den Bukit, Bali Utara.

