Refleksi Raina Anggarkasih Prangbakat, Pemimpin Nir Keteladanan = Masyarakat Auto pilot

0
147

Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

 

Mebhakti raina Anggarkasih Prangbakat hari ini, Selasa, 17 Februari 2026, sering direlasikan dengan makna upakara bagi krama yang berhasil memenangkan “pertempuran”terhadap musuh di dalam diri, sebagai basis penting pendakian diri, dalam artian: intelektual, emosional dan juga spiritual. Dalam karya sastra Ramayana dan Mahabaratha ada ratusan sloka memberikan rujukan tentang ikhtiar dalam melawan musuh dalam diri, kemudian menjadi berpengetahuan dan menjadi bijak dalam memimpin diri dan kemudian kepemimpinan publik.

Nasehat Rama kepada Baratha dan juga Wibisana dalam sloka Asta Bratha yang terkenal itu, demikian juga nasehat Kreshna kepada Arjuna di medan perang Kuru Setra yang menjadi pokok bahasan inti dalam Bhagavad Githa, menggambarkan arti penting penguasaan diri, kepemimpinan diri berbasis sastra agama yang menjadi fondasi bagi kepemimpinan publik. Implisit dan eksplisit dalam karya sastra di atas, pemimpin mesti menjadi suri teladan bagi rakyatnya, membuat kepemimpinan efektif dalam menjalankan “Dharma” kepemimpinan.

Dalam realitasnya sekarang, banyak ditemukan pejabat publik yang dikalahkan oleh ego dirinya, menjadi “aji mumpung”, punya sikap mental menerabas, melanggar etika kepemimpinan, sehingga tidak bisa menjadi “role model”, panutan, suri teladan buat masyarakatnya.

Hanya dipuja-puji oleh orang sekitar dengan “vested interest” nya dan lingkungan yang menjadi “pak turut” karena kepentingannya. Risikonya, bisa terjadi kesenjangan yang amat dalam antara “kisah sukses” dari sang pemimpin di lingkungannya yang “mecik manggis”, karena kepentingan dan juga tradisi feodalisme yang dalam, dengan persepsi publik sebutlah yang masih bisa merawat akal sehat.

Secara falsafi, dalam masyarakat paternalistik vertikal, pemimpin nir keteladanan, melahirkan masyarakat tanpa pemimpin -leaderless sosiety-, masyarakat yang kehilangan pegangan, tanpa “sifat siku-siku”, menjadi masyarakat yang punya maunya sendiri, masyarakat tanpa pemimpin, nyaris auto pilot.

Baca Juga :  Pj Bupati Buleleng Tekankan Kolaborasi dalam Program Percepatan Akses Keuangan Daerah

Dalam perspektif antropologi, sosiologi dan kemudian sejarah, masyarakat menuju anomali, ketidak-jelasan peran. Risikonya pada dua sisi ekstrem, masyarakat punya potensi mengalami depresi sosial, dan pada sisinya yang lain bisa memicu perlawanan revolusi sosial.

Dalam konteks risiko tinggi kemungkinan “social disaster” ini, diharapkan tuan-puan penguasa lebih bisa menahan diri, lebih rendah hati, berempati pada rakyat dengan mendengar suara mereka.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here