Refleksi Raina Buda Kliwon Pahang, Gerakan Swadaya Masyarakat dalam Penyelamatan Alam Bali

0
174

 

Bali mengalami tekanan lingkungan yang luar biasa, menyebut beberapa: suhu bumi Bali dalam 70 tahun terakhir, 1950 – 2020 naik 1,9 derajat celsius, jauh lebih tinggi dari Kesepakatan Paris (2015) sebesar 1,5 derajat celsius.Menurut pakar lingkungan PBB, kenaikan suhu bumi di atas 1,5 derajat celsius, manusia mengalami kesulitan dalam melakukan adaptasi akibat perubahan iklim. Ratio hutan di Bali 18 persen, jauh di bawah standar yang dipersyaratkan 30 persen. Sehingga konsekuensi dari 2 faktor di atas, bencana hidrologi seperti banjir, longsor dan sejenisnya, telah menjadi “langganan” bagi Bali dalam sepuluh tahun terakhir.
Dalam tantangan besar lingkungan ini, di tengah kebijakan pembangunan yang masih “memuja” pertumbuhan ekonomi, abai terhadap lingkungan dan bahkan merusaknya, kegiatan swadaya masyarakat untuk penyelamatan lingkungan dalam perspektif Pembangunan Bali Berkelanjutan menjadi semakin penting dan relevan. Terobosan swadaya masyarakat telah dimulai, oleh mereka yang mencintai Bali – Bali ‘lovers -, dengan melakukan penanaman Bambu di Desa Petak – Mantring, Gianyar, wilayah hilir dari DAS Tukad Pakerisan yang kesohor. Penanaman Bambu, perbaikan budi daya Bambu, sosialisasi ke masyarakat akan arti penting dan strategis dari budi daya bambu untuk penyelamatan DAS, upaya rintisan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi produk Bambu.
Idealismenya, lingkungan terselamatkan, petani memperoleh peningkatan kesejahteraan dari budi daya Bambu. Inovasi sosial yang luar, penyelamatan lingkungan, rintisan pembangunan Bali Berkelanjutan, dengan nilai ekonomi yang semakin layak bagi warga sekitar DAS.
Tantangan bagi kegiatan swadaya masyarakat untuk melakukan pembenahan, penyelamatan DAS lain di Bali, menyebut beberapa DAS: Telaga Waja, Tukad Aya (Karangasem – Klungkung), Ayung (Badung – Gianyar – Denpasar), Tukad Aya (Badung Utara – Buleleng Timur). Rintisan swadaya masyarakat yang menyejarah, dapat mengingatkan kita akan Agama Alam yang telah mentradisi semenjak era Bali Permulaan, “Alas (hutan), adalah panggungan dalam memuja Tuhan”, sehingga ethos dan etika kerja kehidupan masyarakat berada dalam “poros” berkeseimbangan dengan Alam. Esensi Tradisi yang masih bisa ditemukan di Desa-Desa Bali Pegunungan.

Baca Juga :  TKN: Jokowi Segera Susun Anggota Kabinet Periode 2019-2024

Jro Gde Sudibya, intelektual Hindu Bali, pembelajar kebudayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here