Refleksi Raina Buda Wage Mrakih, Musuh Bersama Masyarakat Bali, Kolusi Pengusaha – Penguasa yang Merusak Bali

0
41

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

Rabu, 5 Agustus 2026 raina Buda Wage Mrakih, raina yang sering direlasikan dengan makna “ngaturang angayu bagya sampun pulih sarin mertha sakeng Ida Bhatara-Bhatari sane Melinggih ring Pura Puncak Mangu, melarapan antuk kasiwecan Ida Bhatara-Bhatari Leluhur”.
Pemujaan Tuhan Sankara dengan pengurip 1 ring Wayabea (Barat Laut) Pulau Bali, diyakini sebagai pemberi kemakmuran dalam masyarakat Bali religius dalam tradisi agraris pertanian.
Nilai yang terkandung dalam sistem keyakinan di atas, alam yang terawat dan terjaga, sumber mata air yang lestari, DAS yang terlindungi, persawahan yang dirawat dengan tekun, sekala-niskala, dalam seluruh prosesi merawat sawat, waktu “nyakcag”, ngasah, yang melahirkan kondisi sawah terbaik, sehingga material apapun yang dimasukkan ke sawah di masa “nyakcag” memberi kontribusi terbaik bagi budi daya Padi selanjutnya. Dalam filosofi tua tentang pengelolaan Subak, air di masa “Nyakcag” berfungsi purifikasi diri, “tirha sudha mala, “ngelebur sahananing leteh, suci ning nirmala, tan keletehan”. Ciri bukti, Bali Pulau Dewata, dalam hati, rasa dan laku di tingkat minimal wacana.
Berangkat dari tradisi luhur di atas, musuh bersama (Common Enemy) masyarakat Bali, Kolusi pengusaha – penguasa yang merusak Bali, Alam, Kesucian dan Tatanan Nilai Budaya.
Merusak Alam, bisa disimak “gumine benyah latig” yang kotak pandoranya dibuka pasca banjir bandang raina Pagerwesi, 10 September 2025. Terdokumentasi dalam temuan Pansus TRAP DPRD Bali, yang telah menjadi Rekomendasi DPRD Bali ke Gubernur Bali dalam Sidang Paripurna DPRD Bali 29 Juni 2026.
Gumine “keletehan”, tercemarinya kesuciannya, bisa diambil contoh proyek KEK Kura-KuraBali, yang jarak Pura Sakenan dengan proyek bisnis kurang dari a peneleng alit, 2 km., merujuk Bhisama Kesucian Pura PHDI no.11/1996. Sebagaimana temuan Pansus TRAP DPRD BALI, 4 Pura dan Pelabanya telah menjadi SHGU (Sertifikat Hak Guna Usaha) dari KEK Kura-Kura Bali. Kesucian Pura, basis terdalam bagi keyakinan masyarakat Bali, menjadi “tulang giing”, tulung punggung Kesucian kehidupan masyarakat Bali.
Tatanan Budaya yang terus tergerus, mengalami kemiringan “nyrendeng”, menunggu waktu untuk rubuh dan bahkan rubuh dalam artian sebenarnya. Apa pasalnya?. Kultur Bali yang pada hakekatnya dasarnya keseimbangan, sekala lan niskala, dihadapkan tantangan keras, pahit nan kejam, dari kapitalisme pariwisata yang memuja uang, abai terhadap etika moral, kepatutan dan tidak mengenal “rumus” kesucian terkecuali memuja uang dan atribut luar yang sementara maya. Degradasi budaya ini, untuk sebagian kesalahan masyarakat Bali, yang karena kerapuhan karakter tidak mampu mengendalikan budaya sekuler materialistik yang dibawa kapitalisme pariwisata.
Momentum bagi masyarakat Bali untuk melawan musuh bersama di atas, tamsilnya “menjanjikan madu, tetapi racun yang tersajikan”. Momentum masyarakat Bali “jagra” sadar diri, dari “tidur nyenyak” dari kesenangan materi yang tidak seberapa dan kemudian merubuhkan peradaban dan kebudayaan Bali.

Baca Juga :  Bupati Serahkan SK Dewan Pengawas Perumda Pasar Mangu Giri Sedana

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here