Refleksi Raina Galungan, Kesemarakan Ritual Semestinya Berjalan Seiring dengan Sikap Rendah Hati, Jauh dari Sikap “Angkaban Barong Sumi”, Lebih Besar Pasak dari Tiang

0
356

Ilustrasi

Ritual keagamaan punya kecenderungan menjadi rutinitas, mirip kegiatan industri, sehingga nilai sosial ekonomi lebih ditonjolkan, nilai rasa, batin, spiritualitas semakin kedodoran. Ritual semakin kehilangan “taksu”nya, peran transformasi ritual dalam membersihkan, mentransformasi batin manusia, semakin sayup-sayup terdengar, dalam arus utama pemikiran -main stream- sebut saja dalam “agama” pasar. “Agama” pasar yang sarat transaksional: “membeli” ketenangan, meningkatkan status sosial, “menyembunyikan” prilaku culas, nir etika dan moral. Jadi, nyaris tidak ada relasi antara: “agama” rame-rame, agama sosial, dengan agama spiritual. Narasi standar moral normatif diwacanakan: kejujuran, pengabdian, sikap tanpa pamrih, lebih banyak sebatas pemanis bibir -lips service-.

Kehilangan “taksu”nya, karena publik paham, itu sebatas “gincu” kehidupan yang banyak bohongnya, semacam jebakan bagi mereka yang doyan pencitraan.

Akibatnya, “dharma wacana” semakin kehilangan “taksu”nya, apa yang diucapkan tidak sejalan, tidak “tune in” dengan bahasa tubuh, “totalitas gesture”. Dharma wacana, banyak yang kering, tanpa penghayatan. Teologi dan filsafat diucapkan, tanpa penghayatan dan pendalaman makna, tanpa pengalaman esetoris, menjadi hambar. Di sana sini menggambarkan ekspresi ego dari penceramahnya. Kehilangan kepekaan rasa, tidak lagi mampu menyimak pesan “body language” dari audience .Materi ceramah menjadi kering, nyaris tanpa makna, jauh dari harapan memberi kesejukan, tempat “mesayuban” bagi audience yang “dahaga” dalam “musim kering” keteladanan.

Dharma wacana semestinya menggugah kesadaran manusia, tentang sisi-sisi baik manusia, keutamaan dan kemulyaan diri, menjadi lebih rendah hati.Di tengah “deru campur debunya” kehidupan yang sarat dengan: “pat gulipat”, kebohongan dan kepalsuan. Kesadaran untuk memperkuat “tapa, brata”, laku: “dharana, dhiyana, samadhi”. Proses melihat diri ke dalam, menjadi “jagra”, Sadar Diri.Meminimalkan “bayu, sabda, idep” yang terlalu didominasi oleh sikap: “aji mumpung”, kepentingan jangka pendek yang ingin cepat dapat hasil, menafikan proses kehidupan. Mengendalikan diri dari sikap “angkaban barong sumi”, lebih besar pasak dari tiang, yang cepat atau lambat menjerumuskan kehidupan.

Baca Juga :  Kapolri Cek Pasien Covid-19 Terlayani dengan Baik di RS Polri dan Berikan Bansos ke Nakes

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here