Refleksi Raina Nyepi, “Sandya Kalaning Peradaban Bali, Peradaban Bali di Ufuk Senja?.

0
245

Penulis : Jro Gde Sudibya, Intelektual Hindu, pengamat kecenderungan masa depan.

Catur Bratha Penyepian, di Tahun Baru Caka 1948, 19 September 2026, bagi insan-insan manusia yang selalu berkarma baik dengan pamrih rendah, menstimulasi ketenangan hati dan nurani, melahirkan kecerdasan holistik: Fisik, Intelektual, Emosional, Spiritualitas dan Sosial, melahirkan Viveka (kecerdasan pembeda) dalam merespons hukum Rwa Bhineda di dunia maya ini.

Lahir pertanyaan reflektif, jangan-jangan di tahun baru Caka 1948, bulan ke tiga tahun 2026 Bali memasuki tanda-tanda memudarnya peradaban.”Sandya Kalaning” Bali, Peradaban Bali di Ufuk Senja?.

Dengan sejumlah indikator menyebut beberapa :

Pertama, sebut saja dari perangkat lunak sosial -social soft ware- Bali dihadapkan kepada tantangan: kepemimpinan publik yang kurang berkualitas, nir empati dan nir keteladanan.

Lembaga umat seperti PHDI terpecah, “dipecah”, sehingga kemampuan melayani umat sangat terbatas, demikian juga posisi tawarnya berhadapan dengan kekuasaan. Desa Pakraman yang secara tradisi mandiri, menjadi semakin tergantung pada dana kekuasaan, dana negara yang semestinya merupakan hak bagi mereka.

Kedua, ethos kerja manusia Bali kurang cepat bertumbuh dalam menghadapi tantangan perubahan, sehingga muncul fenomena kalah bersaing di bidang ekonomi dengan para pendatang yang beragama berbeda. Wacana Ajeg Bali dikembangkan, untuk membangun kesadaran baru kebudayaan, tetapi di bawah sadar manusia Bali tersimpan kekhawatiran berupa sekadar wacana menunda kekalahan.

Ketiga, secara sebut saja ” phisical hard ware “, lingkungan alam Bali “benyah latig” dengan kerusakan tak terpanai yang nyaris tidak mampu dipulihkan. Kerusakan parah terjadi dalam perspektif sebut saja “Nyegara – Gunung”, mulai dari kawasan pantai, kehidupan masyarakat pesisir, DAS, empat danau. gugusan hutan dan lereng-lereng Gunung.

Rasio hutan tinggal 18 persen, dari persyaratan ideal 30 persen.
“The dark numbers”, titik-titik gelap yang mengancam Peradaban Bali di atas, tidak melahirkan kesadaran publik bahwa Bali dalam ancaman. Yang justru dikembangkan keberhasilan palsu, jargon-jargon “mengukir langit rokhani” yang “jauh panggang dari api”dengan realitas sosial.

Baca Juga :  Pesta Gol Dalam Laga Perdana Grup D Liga 3 Askab PSSI Buleleng

Ilusi tentang Bali 100 tahun ke depan dalam kondisi Bali kini “benyah latig” secara phisik alam dan juga sosial.
Pencitraan terus “diproduksikan” dengan biaya APBD ratusan milyar rupiah, dengan merekayasa fakta, komunikasi berbasis ilusi, dengan memanfaatkan logika algorithma, untuk tetap terkenal dengan “top mind” di wacana publik.

Dalam tantangan besar ini, memudarnya Peradaban Bali, tantangan krama Bali dalam perspektif Veda/Vedanta untuk menumbuhkan “pohon-pohon” Realisasi Diri yang berupa: kekuatan karakter -Stitha Prajna-, integritas, pengabdian tanpa pamrih, disiplin diri, kehidupan yang tidak terikat (vairagya).

Menghancurkan “Pohon-pohon” Perusakan Diri, seperti prilaku “Memunyah” (termasuk “memunyah” akibat kopi plus arak), “Buduh” dan “Memuduh” -sikap gila dan gila-gilaan-, “Belog” dan “Belog Ajum” -bodoh dan sekaligus memamerkan kebodohan.”Angkaban Barong Sumi”, tampak perkasa di luar, tetapi sangat rapuh di dalam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here