Jro Gde Sudibya
Hari ini, Senin, 13 Mei 2025, raina Purnama Jiestha, Purnama di bulan ke 11 dalam kalender Bali. Besok, 14 Mei 2025, raina Anggarkasih Medangsia, puodalan ring Pura Andakasa, di Selatan Pulau Bali, pemujaan Tuhan Brahma dengan pengurip 9. Pura Goa Lawah di Tenggara Bali, pemujaan Tuhan Maheswara dengan pengurip 8. Pura Luur Uluwatu, di Barat Daya, pemujaan Tuhan Rudra dengan pengurip 3. Bali dengan simbolik Padma Bhuwana, Bunga Padma berkelompok 8, dengan kekuatan Tuhan Ciwa di 8 penjuru Angin, dengan uncaran mantra: SA BA TA HA I NA MA SI WA YA, dengan Pusat dan Timur Laut Pura Penataran Agung Besakih sebagai pemujaan Tuhan Ciwa dan Tuhan Swayambhu.
Bali sebagai Padma Bhuwana tersirat dan tersurat, manusia penghuninya, untuk sederhananya, berada dan menjadi bagian dari realitas Tuhan Ciwa dengan Asta Cakti Nya, yang menyesap dan terserap dalam tubuh rokhani manusia-manusia Bali. Sehingga, konsekuensi logis spiritualnya, Moksha menjadi tujuan hakiki final tujuan manusia dalam perspektif holistik Catur Purusha Artha: Dharma, Artha, Kama, Moksha. Moksha sebagai kebebasan rokhani, di sini dalam dunia yang maya ini, melalui laku hidup: “sukha tan pawali dukha”, membebaskan diri dari keterikatan duniawi, SUSUPTI (tidur tanpa mimpi) yang menggambarkan keterbebasan dari keterikatan kenikmatan duniawi.
Tetapi realitasnya manusia Bali, laku “yasa kerthi”nya tidak menuju ke jalan pembebasan diri Moksha, tetapi sebaliknya, terus menikmati dan melipatgandakan kenikmatan dari totalitas kesenangan duniawi, dari: kekayaan, kepintaran, kecantikan, kegantengan, ketenaran, yang bisa saja berasal dari “pat gulipat” kehidupan, melanggar etika moral dan hukum karma itu sendiri.
Akibatnya terjadi kehidupan yang salah arah, NUNGKALIK. suka – duka dinikmati dan dipamerkan, dan kemudian derita SAMSARA, lahir – hidup – mati dan mati, lingkaran “setan” kehidupan, dipamerkan, dinikmati dengan penuh rasa bangsa.
Akibat sosial kulturalnya sangat mahal,menyebut beberapa; kerapuhan karakter, hilangnya panutan, matinya empati, tergerusnya solidaritas sosial. Dalam konteks Bali dan masa depannya: alam rusak parah, pemujaan terhadap kekuasaan, kekayaan menjadi rujukan kehidupan, terjadi social discontent, kekacauan sosial, masyarakat menjadi terasing di rumah budayanya sendiri.
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

