Hari, Minggu, 25 Oktober 2025, raina Purnama Kelima Icaka 1948. Di banyak desa di Bali Pegunungan, dengan tradisi Bali Mula yang kental, piodalan Purnama Kelima, ditafsirkan sebagai “pembunian” dari puncak piodalan Purnama Kapat satu bulan lalu, pemujaan Tuhan Wisnu sebagai “Sari Amertha” untuk bekerja lebih teguh untuk memasuki “musim kerja” sasih Kenem, Kepitu sampai sasih Kedasa. “Sari Amertha” akan diterima pasca Piodalan Purnama Kedasa, Piodalan “Ngusaba Gumi”, “Neduh” berupa kesejahteraan, hasil dari kerja sekala “melarapan antuk kerthi niskala”. Sistem keimanan yang menggabungkan realitas sekala dengan keyakinan niskala. Narasi lain dari bukti, Bali merupakan Pulau para Dewa, Ida Bhatara-Bhatari bersemayam, memberikan inspirasi, spirit untuk manusia Bali memegang teguhnya karmanya.Hanya dengan memegang teguh Dharma dan Swadharma, ketenangan, ketentraman hubungan antar nanusia tercipta, kesucian dan kedamaian hati lahir pada setiap relung batin manusia Bali. Realitas spiritual yang tidak diwacanakan, tetapi diyakini yang menghantarkan insan-insan manusia Bali menapaki tangga kehidupan rokhaninya.
Dalam tradisi Bali Mula, tangga rokhani ini milik semua orang yang tekun di jalan dharmanya, tidak ada hak istimewa, privilege bagi orang per orang dan atau kelompok tertentu.
Berangkat dari ulasan di atas, pemimpin seperti yang ditelandankan oleh raja besar Bali Mula Cri Aji Jayapangus, pemimpin mesti “suci ning nirmala”, berhati bersih tanpa kekotoran yang akan mampu menjalankan Dharmanya.
Kebersihan pikiran, kesucian hati sang pemimpin akan mampu melahirkan, menstimulasi sikap EMPATI untuk rakyatnya.
Dari sikap empati ini, mengalir kebijakan sang raja, menyebut beberapa, kepedulian untuk merawat Alam, kesucian tempat suci. Keberpihakan bagi kepentingan ekonomi rakyat kecil, sebagai mana pengaturan perdagangan Kapas untuk melindungi petani Kapas. Re. Prasasti Cintamani. Sastra kepemimpinan untuk memihak rakyat dirawat dan dijaga untuk kemudian dilaksanakan, sebagai mana ditemukan dalam puluhan Prasasti yang berada di Buahan dan Kedisan (nama simbolik rokhani) yang puncaknya dalam Prasasti Batur Kelawasan yang sekarang banyak diucapkan tetapi belum mampu dilaksanakan. Hanya pemimpin dengan kualifikasi “suci ning nirmala, tan keletehan” yang akan mampu membumikan kepemimpinan di era Bali Mula. Zaman terus berubah, tetapi spirit kepemimpinan yang melahirkan “taksu” Bali Berkelanjutan semestinya dilestarikan.
Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

