Refleksi Raina Saraswati, Bali Laksana Telur Dihimpit Batu

0
59

 

Sabtu, 31 Oktober 2026 hari raya Saraswati, perayaan aliran pengetahuan rokhani tanpa henti yang dapat memasuki relung batin manusia, sehingga menjadi lebih cerdas dan bahkan bijak dalam menapaki dan memaknai kehidupan.
Bali sebagai satu kesatuan ekologi dan sosial kultural, tamsilnya sebuah Telur dihimpit Batu, rentan pecah, jika pecah, peradaban dan kebudayaannya menguap ditelan kerasnya zaman.
Tantangan dalam risiko kemusnahan peradaban ydm, menyebut beberapa, pertama, kepemimpinan di semua level punya agenda yang sama dalam penyelamatan Bali, Alam, Budaya dan Manusianya. Bukan menonjolkan ego sektoral, ego personal untuk kepentingan sempit yang tidak bertanggung-jawab. Kedua, perlu peta jalan penyelamatan Bali, dengan cetak biru program yang terukur dan indikator kinerja yang jelas. Ketiga, bertumbuh kesadaran masyarakat, di era Persimpangan Jalan perubahan yang dimotori oleh industri pariwisata, kehidupan mesti tetap seimbang dalam orientasi tujuan hidup Catur Purusha Artha, Dharma, Artha, Kama, Moksha. Keempat, “Taksu” Bali mesti terus dirawat dan dijaga, melalui bauran: prilaku sesuai dengan etika, “manut sesana”, kembalikan upakara pada peran spiritualnya, memfurifikasi alam dan juga manusia, melalui ketulusan “ngayah” dan kesucian hati. Tanpa persyaratan ini, upakara bisa terjebak sebagai pemborosan dan kemudian menjadi sia-sia. Istilah dalam bahasa Inggris “Do nothing”, kerja sia-sia.
Kelima, perubahan Desa, Kala, Patra merupakan keniscayaan, hukum besi perubahan dari Alam itu sendiri, diperlukan kecerdasan terlebih-lebih bagi generasi muda Bali dalam merespons perubahan dan punya kekenyalan, kekuatan risilensi, daya tahan mental dalam merespons dan menyongsong perubahan.
Semoga.

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.

Baca Juga :  Warga Kesiman Petilan Antusias Ikuti Lomba Senam Sicita, Meriahkan Bulan Bung Karno Ke V

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here