Jro Gde Sudibya
Hari ini, Sabtu, 7 Juni, Raina Tumpek Krulut, Sasih Sadha, Icaka 1947.
Momentum untuk berefleksi tentang keutamaan dan kemulyaan manusia, dalam relasi internal Sang Diri: Tubuh (Body) – Pikiran (Mind) – Jiwa (Soul).
Kesadaran akan kemulyaan diri, Sang Jiwa, Atman, Ananda Maya Kosa (lapisan terdalam diri), Sat ( Ada, baca Tuhan), Chit (pengetahuan realitas Tuhan), Ananda (Samudra Kebagiaan).
Kesadaran Diri yang melahirkan persepsi dan kemudian keyakinan tentang: kemulyaan manusia, kesamaan dan persamaan manusia dalam perspektif sastra kehidupan.
Kesadaran Diri yang mendorong stimulasi dan motivasi diri untuk berempati kepada sesama, dalam bahasa fisosofi hubungan antar manusia, empati ke sesama merupakan dorongan batin untuk memahami dan bahkan merasakan hubungan suka duka ke sesama.
Memulyakan Manusia, Membangun Empati ke Sesama, mengakibatkan pelayanan (Seva) menjadi “poros inti” karma kehidupan, tema sentral ke seharian kehidupan.
Implikasi psiko sosial kulturalnya, menyebut beberapa, pertama, pejabat publik pemegang amanah publik, untuk kesejahteraan umum -Respublica-, memegang teguh etika pelayanan, bukan melakoni diktum: “power tend to corrupt, absolute power tend to corrupt absolutely”.
Kedua, profesi yang mengandung muatan tinggi kemulyaan kehidupan, sebut saja para: guru, penegak hukum, menjalankan profesinya dengan suka cita pelayanan, dharma profesi sebagai kesempatan emas memperbaiki karma kehidupan di dunia yang maya (sementara) ini. Dharma para guru untuk melahirkan insan-insan manusia yang utama. Dharma penegak hukum, polisi, jaksa, hakim, memberikan rasa keadilan bagi seluruh warga.
Ketiga, Dharma orang tua, untuk mendidik putra-putrinya dengan keteladanan, “satya wacana” , dalam “deru campur debu” nya kehidupan yang sarat dengan hukum “besi” Rwa Bhineda. Rahajeng Nyangra Raina Tumpek Krulut, dengan pesan maknanya yang kaya.
Jro Gde Sudibya, pengamat sosial kutural, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.
Hari ini, Sabtu, 7 Juni, Raina Tumpek Krulut, Sasih Sadha, Icaka 1947.
Momentum untuk berefleksi tentang keutamaan dan kemulyaan manusia, dalam relasi internal Sang Diri: Tubuh (Body) – Pikiran (Mind) – Jiwa (Soul). Kesadaran akan kemulyaan diri, Sang Jiwa, Atman, Ananda Maya Kosa (lapisan terdalam diri), Sat ( Ada, baca Tuhan), Chit (pengetahuan realitas Tuhan), Ananda (Samudra Kebagiaan). Kesadaran Diri yang melahirkan persepsi dan kemudian keyakinan tentang: kemulyaan manusia, kesamaan dan persamaan manusia dalam perspektif sastra kehidupan. Kesadaran Diri yang mendorong stimulasi dan motivasi diri untuk berempati kepada sesama, dalam bahasa fisosofi hubungan antar manusia, empati ke sesama merupakan dorongan batin untuk memahami dan bahkan merasakan hubungan suka duka ke sesama.
Memulyakan Manusia, Membangun Empati ke Sesama, mengakibatkan pelayanan (Seva) menjadi “poros inti” karma kehidupan, tema sentral ke seharian kehidupan.
Implikasi psiko sosial kulturalnya, menyebut beberapa, pertama, pejabat publik pemegang amanah publik, untuk kesejahteraan umum -Respublica-, memegang teguh etika pelayanan, bukan melakoni diktum: “power tend to corrupt, absolute power tend to corrupt absolutely”. Kedua, profesi yang mengandung muatan tinggi kemulyaan kehidupan, sebut saja para: guru, penegak hukum, menjalankan profesinya dengan suka cita pelayanan, dharma profesi sebagai kesempatan emas memperbaiki karma kehidupan di dunia yang maya (sementara) ini. Dharma para guru untuk melahirkan insan-insan manusia yang utama. Dharma penegak hukum, polisi, jaksa, hakim, memberikan rasa keadilan bagi seluruh warga. Ketiga, Dharma orang tua, untuk mendidik putra-putrinya dengan keteladanan, “satya wacana” , dalam “deru campur debu” nya kehidupan yang sarat dengan hukum “besi” Rwa Bhineda.
Rahajeng Nyangra Raina Tumpek Krulut, dengan pesan maknanya yang kaya.
Jro Gde Sudibya, pengamat sosial kutural, penulis buku Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.

