Jro Gde Sudibya (tengah) diapit Bupati (kanan) dan Wakil Bupati Buleleng (kiri).
Balinetizen.com, Jakarta
Renungan Kebangsaan, Bangsa Ini di Usianya ke 80 Tahun, Telah Runtuh Secara Etika dan Moral. Secara etika moral bangsa ini telah hancur, ini indikasi buktinya.
Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik dan kecenderungan masa depan, Selasa 19 Agustus 2025.
Dikatakan, pendapatan negara, cadangan devisa sangat tergantung kepada ekspor: minyak sawit, batu bara, nikel dan hasil tambang lainnya, yang mayoritas dikuasai oleh belasan taipan oligarki Proyek-Proyek tersebut.
Lagi pula, kata Jro Gde Sudibya, proyek -proyek tersebut telah merusak lingkungan dan menggusur jutaan masyarakat adat.
“Belum lagi persoalan utang dalam dan luar negeri berbunga mahal. Ini berarti negeri ini, untuk membelanjai birokrasi, mendanai pemda yang kurang lebih separuh, sekitar 300 kabupaten/kota yang pendanaannya tergantung dana transfer daerah,” katanya.
Dikatakan, pemerintahan yang dananya super cekak, tingkat korupsinya tinggi. Berdasarkan release dari PPATK, PSN (Proyek Strategis Nasional) tahun 2023 senilai Rp.500 T, dikorupsi 36,67 persen oleh elite politik dan birokrasi, yang namanya jelas (dalam nama rekening bank) jumlah transfernya, dan kemana uang tersebut dibelanjakan dan ditransfer kembali.
Berdasarkan data dari sejumlah pengamat ekonomi, bagian negara dari sektor pertambangan di era Orde Baru 35 persen, di era SBY 28 persen, di era JW tinggal 6 persen. Pemerintah tidak mrnyanggah pendapat ini, sehingga persepsi publik, estimasi ini benar adanya.
Sementara itu, lanjut Jro Gde Sudibya berdasarkan ketentuan WTO setiap negara mesti melaporkan kegiatan ekonomi ekspor impornya.
Contoh, kata Jro Gde Sudibya, China melaporkan impor Nikel dari Indonesia selama tahun 2021 – 2023 sebesar 5,4 juta ton. Sedangkan Indonesia menyatakan tidak ada ekspor Nikel pada kurun waktu tsb, dengan alasan ada peraturan yang melarang ekspor bahan mentah Nikel. Indikasi manipulasi dalam ekspor Nikel.
“Ini merupakan PR besar buat Presiden Prabowo untuk menyelesaikan “sirkuit kemelut” dari pemerintahan sebelumnya, menegakkan kepemimpinan otentik, menyelamatkan bangsa dan negeri ini dari risiko kehancuran total,” katanya.
Dikatakan, secara filosofi, sejarah mengetuk pintu hati Presiden untuk mengambil langkah tegas dan menyejarah sejalan Dharma kepemimpinannya. Karakter Presiden Prabowo sebagai kesatrya Dharma (pemimpin yang berani membela kebenaran) memasuki ujian.
“Rakyat menunggu keberanian Presiden Prabowo untuk melakukan reshufle kabinet secara progresif radikal, untuk menjamin ide sosialistik sang Presiden, menyimak lirik sebuah lagu “dreams come true”. Menjadi kenyataan di tengah ketimpangan pendapatan yang menganga tinggi, dan ketidakadilan sosial yang menghina nilai kemanusiaan,” kata Jro Gde Sudibya.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

