Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 Berakhir di Candi Prambanan, Meneguhkan Pasabhan Kabudayaan Jawa–Bali

0
80

 

Balinetizen.com, Yogyakarta

Rangkaian Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 yang diselenggarakan Yayasan Puri Kauhan Ubud resmi berakhir tadi malam di Utama Mandala Candi Prambanan, Yogyakarta. Penutupan ini menjadi puncak perjalanan budaya dan spiritual yang selama sepekan menyusuri lima simpul penting peradaban Nusantara sebagai wujud Pasabhan Kabudayaan Jawa–Bali: mulai dari Pura Agung Blambangan, Wihara Padepokan Dhammadipa Arama Kota Batu-Malang, Candi Tegowangi Kediri, Pura Mangkunegaran dan terakhir di Candi Prambanan.

Mengusung semangat merawat ingatan kolektif bangsa, Sastra Saraswati Sewana Yatra menghadirkan pementasan Topeng Sakral Sri Aji Dalem Jawi dan Wayang Wong Tantri Nandaka Harana. Kedua karya tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan media untuk menghidupkan kembali ajaran luhur para leluhur tentang kepemimpinan, persatuan, kebijaksanaan, toleransi, serta kemenangan dharma atas adharma.

Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, menyampaikan bahwa Pasabhan Kabudayaan Jawa–Bali merupakan ruang perjumpaan sejarah, nilai, dan persaudaraan yang telah terjalin selama berabad-abad.

“Candi Prambanan menjadi penutup yang sarat makna. Di tempat ini kita kembali diingatkan bahwa peradaban besar Nusantara dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan, spiritualitas, seni, dan penghormatan terhadap keberagaman. Kebudayaan adalah jembatan yang menyatukan, bukan yang memisahkan.”

Selama penyelenggaraan, Sastra Saraswati Sewana Yatra mendapat sambutan hangat dari masyarakat, tokoh agama, budayawan, akademisi, pemerintah daerah, dan berbagai komunitas di setiap lokasi. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai kebudayaan Nusantara tetap hidup dan relevan sebagai perekat persatuan bangsa di tengah tantangan zaman.

Yayasan Puri Kauhan Ubud menyampaikan apresiasi dan parama suksma kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, khususnya Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Yayasan Dhammadipa Arama, Pura Mangkunegaran, Tim Kerja Pemanfaatan Candi Prambanan, pemerintah daerah, para seniman, relawan, serta seluruh masyarakat yang telah menjadi bagian dari perjalanan budaya ini.

Baca Juga :  Dihadiri Gamer Profesional, Gubernur Koster Dukung Bali Tuan Rumah eSports Internasional

Berakhirnya Sastra Saraswati Sewana Yatra 2026 bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari komitmen bersama untuk terus merawat warisan budaya, memperkuat dialog antarkebudayaan, dan menghidupkan nilai-nilai luhur Nusantara sebagai inspirasi membangun Indonesia yang berakar kuat pada tradisi dan menjulang tinggi dalam peradaban dunia. (rls)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here