Sejumlah Pohon Mangrove Mati di Serangan, Diduga Akibat Aliran Lindi TPA Suwung

0
35

Ket foto : sejumlah pohon mati diduga akibat tercemar aliran Lindi TPA Suwung (ist)

 

Balinetizen.com, Denpasar

Kawasan konservasi mangrove di pesisir Serangan, Denpasar Selatan, menghadapi ancaman ekologis akibat aliran air lindi (leachate) yang diduga mengalir dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarbagita Suwung menuju kawasan mangrove.

Air lindi merupakan cairan yang terbentuk ketika air, termasuk air hujan, merembes melalui timbunan sampah dan membawa berbagai zat kimia serta materi organik dan anorganik yang terkandung di dalamnya.

Pantauan di lapangan pada Jumat (18/9/2026) menunjukkan cairan pekat keluar melalui saluran besar yang terhubung dari kawasan TPA Suwung dan mengarah ke area konservasi mangrove di sekitarnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan mangrove yang berada di wilayah Tahura Ngurah Rai memiliki luas mencapai 1.373,5 hektare dan berperan penting sebagai pelindung pesisir sekaligus habitat berbagai biota.

Aktivis lingkungan sekaligus warga Serangan, Wayan Jecky, mengatakan aliran lindi dari TPA Suwung terlihat mengarah langsung ke kawasan mangrove.

“Setelah kami survei lebih mendalam, aliran air lindi dari TPA ini mengarah langsung ke area mangrove. Mengingat TPA Suwung menghasilkan sampah campur, kemungkinan besar lindi tersebut mengandung zat besi dan racun lainnya,” ujar Jecky, Selasa (22/9/2026).

Menurut dia, kondisi mangrove yang mengalami kerusakan terlihat secara kasatmata. Ia menduga kematian tanaman mangrove tidak semata-mata dipengaruhi faktor cuaca maupun embusan angin kencang.

Jecky menyebut sedimen yang terbawa aliran air turut membentuk endapan lumpur dengan bau menyengat di sekitar kawasan mangrove. Endapan tersebut diduga menutupi bagian akar tanaman sehingga mengganggu pertumbuhan hingga menyebabkan kematian mangrove.

Persoalan aliran lindi ini muncul ketika aktivitas TPA Suwung kembali menjadi perhatian. Gerbang TPA tersebut saat ini kembali dibuka untuk menerima pasokan sampah organik setiap Selasa dan Kamis.

Baca Juga :  Pilkel Tiga Desa, Satu Petahana Kalah Telak

Pembukaan kembali tersebut dilakukan sebagai langkah darurat sembari menunggu realisasi proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang hingga kini belum rampung.

Bagi Jecky, kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius karena potensi dampaknya tidak hanya terhadap tanaman mangrove, tetapi juga terhadap ekosistem di kawasan hilir Serangan.

Ia meminta pemerintah segera turun ke lapangan untuk memastikan sumber dan dampak aliran lindi tersebut sekaligus mencari solusi agar cairan dari kawasan TPA tidak terus mengalir ke kawasan mangrove Tahura Ngurah Rai.

“Kami meminta tolong kepada pemerintah terkait agar cepat turun ke lapangan. Harus dicarikan solusi, dan perlu ada riset mendalam agar aliran air lindi ini tidak terus dialirkan ke mangrove Tahura karena dampak negatif ekologisnya sangat besar,” tegasnya.

Selain persoalan air lindi, Jecky mengatakan persoalan sampah padat juga masih ditemukan di sekitar kawasan konservasi mangrove Serangan.

Ia mengaku kerap menemukan tumpukan sampah yang berserakan dan menyumbat sejumlah bagian kawasan konservasi. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan persoalan timbulan sampah di Denpasar membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh.

Penanganan sampah, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan upaya pemilahan sampah dari tingkat hulu. Persoalan di kawasan hilir juga membutuhkan perhatian dan penanganan yang konsisten.

Jecky menilai beban penanganan sampah di kawasan TPA Suwung dan Serangan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Ia mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Perlu kolaborasi dan effort tinggi dari semua pihak. Pihak swasta seperti BTID maupun BUMN yang ada di sekitar TPA, seperti Pelindo dan Pertamina, seharusnya bisa ikut turun tangan membantu penanganan sampah di Pulau Bali ini,” pungkas Jecky.

Baca Juga :  Lima Kali WTP Berturut-turut, Pemkab Jembrana Diganjar Penghargaan

Persoalan aliran lindi dan timbulan sampah di sekitar kawasan mangrove Serangan kini menjadi perhatian karena kawasan tersebut memiliki fungsi penting dalam menjaga ekosistem pesisir. Penanganan yang cepat, penelitian mengenai kualitas lindi, serta pengendalian aliran limbah menjadi hal yang didorong untuk mencegah dampak ekologis yang lebih luas.

 

(Jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here