SIKAP KEAGAMAAN versus SPIRITUALITAS : Inspirasi Memperkuat Daya Tahan Mental di Masa Pandemi

0
1157
Oleh: I Gde Sudibya

Tidak sedikit orang bertanya: ritual keagamaan kita semakin marak, bahkan ” riuh rendah ” ( sebelum pandemi ), tetapi kualitas kehidupan kita secara pribadi ( kalau kita  mau jujur mengakuinya ) dari sisi: integritas, kredibilitas, penyelenggaraan etika kehidupan, tidaklah semakin baik. Bahkan terjadi banyak kemerosotan moral dan etika pada sebagian warga. Tampaknya tidak terjadi korelasi positif antara: kesemarakan ritual dengan peningkatan kualitas prilaku yang menggambarkan kualitas rohani insan manusia.

Jika kita merujuk pemikiran Durkheim, sosiolog ternama Perancis terjadi anomie: kekacauan peran dalam masyarakat. Mereka yang semestinya teladan dalam masyarakat, realitasnya malah sebaliknya. Mereka yang semestinya pemegang amanah publik, ternyata melakukan korupsi kekuasaan. Mereka yang semestinya menjadi garda terdepan mengawal simbol kesucian agama, ada yang mempergunakannya sebagai alat politik untuk meraih kekuasaan. Ironinya dengan cara-cara melanggar kaidah agama.
Dalam realitas kehidupan seperti ini,  orang jernih cerdas, tidak mesti “berlabel” teolog, filosof dan sosiolog agama, melakukan komparasi antara agama, sikap keagamaan dengan spiritulitas, relegiusitas, pada posisinya yang diametral. Kita bisa berbeda pendapat tentang ini, dan busa juga  meletakkannya dalam perspektif kritik konstruktif terhadap agama-agama dan sikap keagamaan.
Pandangan diametral dari Dr.Teilhard de Chardin yakni AGAMA VS SPIRITUAL.

Dr. Teilhard de Chardin

Lahir di Orcines, pada tanggal 1 Mei 1881 dan meninggal di New York pada tanggal 10 April 1955.
Dia adalah teolog, filosof dan ahli paleontologi Perancis yang membangun visi terpadu sience dan mistisisme dengan pemikirannya; dari evolusi semangat dan pemikiran.

â–ªAgama bukan hanya satu, tetapi ada ratusan.
â–ªSpiritualitas adalah satu.

â–ª Agama adalah untuk mereka yg masih tidur.
â–ªSpiritualitas adalah untuk mereka yang sudah bangun.

Baca Juga :  Masa Tugas PPK dan PPS Pilkada Serentak 2024 Berakhir

â–ª Agama adalah untuk mereka yang masih membutuhkan seseorang untuk memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan dan masih perlu dibimbing.
▪Spiritualitas adalah untuk mereka yang sudah dapat  memperhatikan suara hati mereka.

â–ª Agama memiliki seperangkat aturan dogmatik.
â–ª Spiritualitas mengundang kita untuk memikirkan segala sesuatu dan mempertanyakan semuanya.

â–ª Agama biasanya mengancam dan menakut-nakuti.
â–ªSpiritualitas memberi kedamaian batin.

â–ª Agama berbicara tentang dosa dan kesalahan.
â–ª Spiritualitas mengajarkan bagaimana harus “belajar dari kesalahan”.

â–ª Agama menekan segala sesuatu dan dalam beberapa hal itu adalah salah.
â–ªSpiritualitas melampaui segala hal dan membawa kita lebih dekat dengan kebenaran !

â–ª Agama berbicara tentang tuhan Dan karenanya bukan didalam Tuhan.
â–ªSpiritualitas adalah segalanya dan, karenanya itu ada di dalam Tuhan.

â–ª Agama menciptakan.
â–ª Spiritualitas menemukan.

â–ª Agama tidak mentolerir pertanyaan apapun.
â–ªSpiritualitas mempertanyakan segala hal.

â–ª Agama adalah manusia, ini adalah organisasi dengan peraturan-peraturan manusia
â–ªSpiritualitas adalah Tuhan, tanpa aturan manusia.

â–ª Agama adalah penyebab perpecahan.
▪Spiritualitas mengakibatkan  bersatu.

▪ Agama :  mencari kita supaya percaya.
â–ª Spiritualitas : kita harus mencarinya untuk percaya.

â–ª Agama mengikuti ajaran dari kitab suci.
â–ª Spiritualitas mencari yang suci di semua kitab.

â–ª Agama memanfaatkan Dan memberi makan ketakutan.
â–ªSpiritualitas memanfaatkan kepercayaan dan iman.

â–ª Agama hidup dalam pikiran.
â–ª Spiritualitas hidup dalam kesadaran.

â–ª Agama berhubungan dengan melakukan dan orang lain
â–ª Spiritualitas berhubungan dengan renungkan dan diri sendiri

â–ª Agama memberi makan ego.
â–ª Spiritualitas mendorong untuk melampaui.

â–ª Agama membuat kita meninggalkan dunia untuk mengikuti Tuhan.
â–ª Spiritualitas membuat kita hidup di dalam Tuhan, tanpa meninggalkan dunia / kita

Baca Juga :  Urgensi mitigasi bencana, ancaman tenggelam hingga tsunami Jakarta

â–ª Agama adalah liturgi.
â–ªSpiritualitas adalah meditasi.
â–ª Agama hidup di masa lalu dan di masa depan.
â–ª Spiritualitas hidup di masa sekarang.

â–ª Agama mengisi kita dengan mimpi kemuliaan di surga.
â–ªSpiritualitas membuat kita hidup dalam kemuliaan dan surga di sini dan saat ini.

â–ª Agama menciptakan _cloisters_ dalam ingatan kita.
â–ªSpiritualitas membebaskan kesadaran kita.

â–ª Agama membuat kita percaya akan kehidupan kekal.
â–ªSpiritualitas membuat kita *sadar* akan kehidupan kekal.

â–ª Agama menjanjikan kehidupan setelah kematian.
â–ªSpiritualitas adalah menemukan Tuhan di dalam batin kita selama hidup dan setelah mati.

â–ªKami bukan manusia yg mengalami pengalaman spiritual.
â–ªKami adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman manusia.

Spritualitas – Kesadaran Diri – Daya Tahan Mental
Veda/Vedanta amat sangat banyak memberikan limpahan pengetahuan  holistik ( intelektualitas dan spiritualitas ), yang membumi. Dalam artian pengetahuan holistik ini, menjadi spirit kehidupan plus ketrampilan & keahlian untuk membumikannya dalam ke seharian kehidupan. Upanisad memberikan limpahan pengetahuan tentang ini.
Astangga Yoga ( 8 tahapan yoga ) dari Rsi Patanjali tentang: etika kehidupan, olah tubuh berbasis pengetahuan rohani, disiplin dalam pengaturan nafas, penarikan indra-indra ke dalam diri, pendakian rohani menuju realisasi diri. Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Praktyahara, Dharana, Dhyana,  Samadhi.
Astangga yoga ini, memberikan insan-insan manusia, tuntunan 3 keutamaan pengetahuan secara simultan: daya tahan fisik dan mental, kebangkitan spiritualitas dan pencerahan diri – self consiousness -.
Gerakan yoga yang mendunia dalam beberapa dasa warsa terakhir, lintas suku, agama dan kebangsaan merupakan buktinya. Gerakan kemanusiaan global ini, rasanya akan jauh lebih metaksu jika secara jujur mengakui  sumber teks aslinya dari Astangga Yoga Rsi Patanjali.
Pandemi Covid-19 dengan seluruh dampaknya: kesehatan, ekonomi, psikiatri dan psikologi, dan dimensi sosial lainnya, sangat memerlukan pengetahuan dan pembangkitan spiritulitas dalam diri insan-insan manusia.
Tentang Penulis
I Gde Sudibya, Ketua Pusat Kajian Hindu, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ), Denpasar. Pendiri dan Pengasuh Dharma Sala Bali Werdhi Budaya – Rsi Markandya ‘ Ashram -, Bukit Tampak Saa, Desa Pakraman Tajun, Den Bukit Bali Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here