Oleh: I Gde SudibyaTidak sedikit orang bertanya: ritual keagamaan kita semakin marak, bahkan ” riuh rendah ” ( sebelum pandemi ), tetapi kualitas kehidupan kita secara pribadi ( kalau kita mau jujur mengakuinya ) dari sisi: integritas, kredibilitas, penyelenggaraan etika kehidupan, tidaklah semakin baik. Bahkan terjadi banyak kemerosotan moral dan etika pada sebagian warga. Tampaknya tidak terjadi korelasi positif antara: kesemarakan ritual dengan peningkatan kualitas prilaku yang menggambarkan kualitas rohani insan manusia.
Dr. Teilhard de Chardin
Dia adalah teolog, filosof dan ahli paleontologi Perancis yang membangun visi terpadu sience dan mistisisme dengan pemikirannya; dari evolusi semangat dan pemikiran.
â–ªAgama bukan hanya satu, tetapi ada ratusan.
â–ªSpiritualitas adalah satu.
â–ª Agama adalah untuk mereka yg masih tidur.
â–ªSpiritualitas adalah untuk mereka yang sudah bangun.
â–ª Agama adalah untuk mereka yang masih membutuhkan seseorang untuk memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan dan masih perlu dibimbing.
▪Spiritualitas adalah untuk mereka yang sudah dapat memperhatikan suara hati mereka.
â–ª Agama memiliki seperangkat aturan dogmatik.
â–ª Spiritualitas mengundang kita untuk memikirkan segala sesuatu dan mempertanyakan semuanya.
â–ª Agama biasanya mengancam dan menakut-nakuti.
â–ªSpiritualitas memberi kedamaian batin.
â–ª Agama berbicara tentang dosa dan kesalahan.
â–ª Spiritualitas mengajarkan bagaimana harus “belajar dari kesalahan”.
â–ª Agama menekan segala sesuatu dan dalam beberapa hal itu adalah salah.
â–ªSpiritualitas melampaui segala hal dan membawa kita lebih dekat dengan kebenaran !
â–ª Agama berbicara tentang tuhan Dan karenanya bukan didalam Tuhan.
â–ªSpiritualitas adalah segalanya dan, karenanya itu ada di dalam Tuhan.
â–ª Agama menciptakan.
â–ª Spiritualitas menemukan.
â–ª Agama tidak mentolerir pertanyaan apapun.
â–ªSpiritualitas mempertanyakan segala hal.
â–ª Agama adalah manusia, ini adalah organisasi dengan peraturan-peraturan manusia
â–ªSpiritualitas adalah Tuhan, tanpa aturan manusia.
â–ª Agama adalah penyebab perpecahan.
▪Spiritualitas mengakibatkan bersatu.
â–ª Agama :Â mencari kita supaya percaya.
â–ª Spiritualitas : kita harus mencarinya untuk percaya.
â–ª Agama mengikuti ajaran dari kitab suci.
â–ª Spiritualitas mencari yang suci di semua kitab.
â–ª Agama memanfaatkan Dan memberi makan ketakutan.
â–ªSpiritualitas memanfaatkan kepercayaan dan iman.
â–ª Agama hidup dalam pikiran.
â–ª Spiritualitas hidup dalam kesadaran.
â–ª Agama berhubungan dengan melakukan dan orang lain
â–ª Spiritualitas berhubungan dengan renungkan dan diri sendiri
â–ª Agama memberi makan ego.
â–ª Spiritualitas mendorong untuk melampaui.
â–ª Agama membuat kita meninggalkan dunia untuk mengikuti Tuhan.
â–ª Spiritualitas membuat kita hidup di dalam Tuhan, tanpa meninggalkan dunia / kita
â–ª Agama adalah liturgi.
â–ªSpiritualitas adalah meditasi.
â–ª Agama hidup di masa lalu dan di masa depan.
â–ª Spiritualitas hidup di masa sekarang.
â–ª Agama mengisi kita dengan mimpi kemuliaan di surga.
â–ªSpiritualitas membuat kita hidup dalam kemuliaan dan surga di sini dan saat ini.
â–ª Agama menciptakan _cloisters_ dalam ingatan kita.
â–ªSpiritualitas membebaskan kesadaran kita.
â–ª Agama membuat kita percaya akan kehidupan kekal.
â–ªSpiritualitas membuat kita *sadar* akan kehidupan kekal.
â–ª Agama menjanjikan kehidupan setelah kematian.
â–ªSpiritualitas adalah menemukan Tuhan di dalam batin kita selama hidup dan setelah mati.
â–ªKami bukan manusia yg mengalami pengalaman spiritual.
â–ªKami adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman manusia.
Gerakan yoga yang mendunia dalam beberapa dasa warsa terakhir, lintas suku, agama dan kebangsaan merupakan buktinya. Gerakan kemanusiaan global ini, rasanya akan jauh lebih metaksu jika secara jujur mengakui sumber teks aslinya dari Astangga Yoga Rsi Patanjali.

