Tapanuli Tengah, Habitat Burung Rangkong Paruh Putih

0
1390
hutan Labuan Angin, Kecamatan Tapian Nauli, di hutan jalan alternatif Rampa-Poriaha dan di Hutan perbukitan Kecamatan Tukka.

Balinetizen.com, Nusantara-

 

Tapanuli Tengah, Siapa mengira, gugusan hutan di Pantai Barat Sumatera Utara menjadi habitat yang subur bagi spesies Burung Rangkong berjenis Paruh Putih.

Penelusuran, beberapa titik hutan di Tapanuli Tengah, ditemukan keberadaan burung yang kini terancam punah karena perburuan liar.

Misalnya di hutan Labuan Angin, Kecamatan Tapian Nauli, di hutan jalan alternatif Rampa-Poriaha dan di Hutan perbukitan Kecamatan Tukka.

Teranyar, keberadaan burung ini terlihat di hutan Labuan Angin, akhir pekan lalu. Beberapa ekor ditemukan terbang rendah di pepohonan di pinggir jalan.

“Memang disitu makanannya, makanya sering nampak,” kata Simanjuntak, seorang warga sekitar yang setiap hari mengangon Kerbau di wilayah itu.

Benar saja, seekor Burung Rangkong berhasil diabadikan saat bertengger di pepohonan. Tak lama ia terbang sejarak 500 meter melintasi areal Latihan Militer yang dibangun Pangkalan Angkatan Laut. Burung itu kemudian berhenti di pohon lain.

Di sana, sekitar 3 ekor burung lain juga sedang bertenger. Suaranya berisik bersahut-sahutan mirip suara Babi Hutan.

Awak media mencoba menunggu di tepian jalan di lokasi yang menurut warga sering tempat Burung Rangkong memakan buah. Di sana 3 ekor burung terbang hilir mudik meski tak sempat singgah di pohon tepi jalan dimana banyak buah yang menjadi makanan burung khas Asia itu.

“Maupun turun ke tanah, kayak bebek lah kami tengok, dah biasa kami,” kata Manullang, warga lain yang melintas.

Beruntung, kehidupan burung yang masuk dalam keluarga Bucerotidae (julang, enggang, dan kangkareng) ini masih terbilang aman. Pengakuan Manullang, dirinya belum pernah mendengar terjadi perburuan Burung Rangkong.

“Belum pernah terdengar ada yang buru,” katanya.

Indonesia menjadi wilayah dimana habitat dan populasi Rangkong terbesar di Asia. Di hutan Sumatera, disebut sebagai habitat terlengkap keberadaan burung ini, termasuk hutan Batangtoru yang memanjang hinga ke wilayah Tapanuli Tengah.

Baca Juga :  Sri Mulyani Sebut Defisit APBN Hingga Agustus Capai 2,32 Persen

“Kalau penyebaran (burung Rangkong) memang Hutan Batangtoru masuk,” kata Seno Pramudita, BKSDA Wilayah II, Sumatera Utara kepada wartawan, Senin (27/1/2020).

Diketahui terdapat 13 jenis Burung Rangkong di Indonesia. Semua jenis ini dilindungi UU No 5 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan PP No 7 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

“Pada prinsipnya rangkong merupakan satwa yang dilindungi sehingga perlu upaya konservasinya. Diimbau, agar tidak melakukan kegiatan perburuan terhadap burung rangkong ini, perlu kepedulian semua pihak demi kelestariannya,” kata Seno.

Dihubungi terpisah, Selasa (28/1/2020), Ketua Komunitas Menjaga Pantai Barat (Komantab) Damai Mendrofa mengatakan, untuk menjaga keberadaan Burung Rangkong di Tapanuli Tengah dibutuhkan peran banyak pihak. Tidak saja pemerintah namun juga masyarakat dan individu.

“Harus saling kerjasama, pemerintah dalam hal ini instansi terkait, misalnya BKSDA, tentu harus berperan lebih banyak,” katanya.

Menurut Damai, upaya pencegahan sejak dini menjadi yang terpenting yang harus dilakukan sebelum kerusakan populasi terjadi.

“Jangan nanti nasibnya seperti di beberapa tempat dimana perburuan merajalela, karena ketika sudah diburu, maka pekerjaan akan semakin berat karena akan berhadapan dengan sindikat, ini yang kita tidak inginkan,” pungkas Damai.

 

Editor : SUT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here