Balinetizen.com, Denpasar
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) dengan koordinator Teguh Istiyanto kembali menjadi viral, dengan rencana demo besar di DPR Jakarta, 27 Juni 2026 dengan tuntutan sahkan RUU Perampasan Aset Koruptor dan Hukum mati para koruptor.
Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik, Selasa 25 Agustus 2026.
Dikatakan, tuntutan politik ini semakin viral, dan mendapat dukungan luas publik, setelah rekan seperjuangannya Supriyono alias Botok, rekening pribadinya di Bank Mandiri diblokir tanpa alasan hukum yang jelas.
“Publik marah besar, tindakan sewenang-wenang ini dinilai sebagai upaya membungkam gerakan massa di Jakarta, 27 Agustus 2026. Respons negatif Publik terhadap Bank Mandiri semakin membesar,” kata Jro Gde Sudibya.
Dikatakan, Teguh rakyat biasa dari Desa Wangunrejo Pati bersama rekan-rakannya melawan kesewenang-wenangan dari Bupati Pati atas keputusan menaikkan PBB yang “gila-gila” an dan mutasi ASN yang melawan nalar sehat.
Menurut Jro Gde Sudibya, Teguh sempat dikroyok dalam demo di DPRD Pati, teras rumahnya dibakar, diajukan ke pengadilan dengan tuntutan hukum.9 tahun penjara, walaupun pada akhirnya dibebaskan.
Dikatakan, sejarah kembali mencatat, perjuangan menuntut keadilan selalu dihadapkan ke “tembok tebal” keangkuhan kekuasaan, sehingga ucapan Presiden Soekarno ketika menerima delegasi mahasiswa, bulan Juli 1957 di Istana Negara Jakarta kembali terngiang, “perjuanganku lebih mudah karena melawan bangsa asing yang penjajah, perjuangan kalian lebih berat karena harus berhadapan dengan bangsa sendiri”.
Menurutnya, Soekarno sebagai intelektual , berjuang bersama rakyat sangat paham dari kekuasaan yang cendrung korup, terlebih-lebih dari masyarakat dengan tradisi feodal yang sangat kental.
“Sehingga meminjam pendapat antropolog ternama Prof.Koentjoroningrat, budaya “aji mumpung” dan sikap mental “menerabas” menjadi ciri melekat dari penguasa,” katanya.
Dikatakan, perjuangan politik dari Istiyanto dan Botok memberi inspirasi bagi anak-anak manusia negeri ini yang terpinggirkan, menjadi “pelengkap penderita” dari deru campur debunya” pembangunan yang sarat dengan mega korupsi.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

