Tri Hita Karana dan Bank Sampah: Menyulap Sampah Jadi Sumber Harmoni

0
196

Oleh: Luh Gede Kusuma Dewi
Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha

 

Ketika berbicara tentang sampah, yang terbayang di benak banyak orang mungkin adalah tumpukan plastik, bau tak sedap, dan masalah lingkungan yang tak kunjung selesai. Namun di balik itu, ada kisah inspiratif tentang bagaimana masyarakat Bali, mengubah cara pandang terhadap sampah melalui konsep filosofi Tri Hita Karana. Bagi mereka, sampah bukan sekadar limbah, tetapi sumber nilai, bahkan sumber kebahagiaan dan harmoni jika dikelola dengan bijak. Filosofi Tri Hita Karana, yang berarti “tiga penyebab kebahagiaan”, mengajarkan keseimbangan antara tiga hubungan penting: manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan). Ketiga unsur ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkelindan membentuk harmoni hidup. Maka ketika masalah lingkungan semakin kompleks, konsep ini kembali menemukan relevansinya, terutama melalui gerakan bank sampah.

Dari Sampah Menjadi Cuan
Bank sampah bukanlah bank dalam arti tempat menyimpan uang, melainkan tempat masyarakat “menabung” sampah yang sudah dipilah dan lalu mendapatkan ‘cuan’ atau nilai ekonomi dari hasilnya. Botol plastik, kertas bekas, logam, dan sampah organik semuanya punya harga jika dikelola dengan benar. Sistemnya sederhana: warga datang membawa sampah, petugas menimbang, mencatat nilainya di buku tabungan, dan hasilnya bisa diuangkan atau ditukar barang kebutuhan. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar urusan ekonomi. Di sinilah nilai Tri Hita Karana bekerja nyata. Melalui bank sampah, masyarakat belajar menghargai ciptaan Tuhan dengan menjaga kebersihan dan tidak mencemari alam (Parahyangan). Mereka juga memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong lewat kerja kolektif mengelola sampah (Pawongan). Dan tentu saja, kegiatan ini menjaga keharmonisan dengan alam, karena lingkungan yang bersih adalah sumber kehidupan yang lestari (Palemahan).

Baca Juga :  Ny. Putri Koster Ajak Mahasiswa Teknik Berkontribusi dalam Pembangunan Pusat Kebudayaan Bali

Kewirausahaan Sosial Bernapas Budaya
Gerakan bank sampah sesungguhnya adalah bentuk nyata dari kewirausahaan sosial yang merupakan sebuah model bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membawa perubahan sosial. Dalam praktiknya, warga yang dulunya membuang sampah sembarangan kini bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil daur ulang. Ibu rumah tangga, pelajar, bahkan anak-anak dilibatkan dalam kegiatan memilah, mengumpulkan, dan mendaur ulang sampah. Seperti yang ditunjukkan oleh komunitas Umah Kreatif Bali yang berlokasi di Banyuning, Singaraja. Pengelolaan sampah bisa menjadi gerakan sosial yang produktif. Mereka tidak hanya mendaur ulang plastik dan mengolah sampah organik menjadi kompos dengan teknologi maggot, tapi juga menjalankan program pendidikan di mana anak-anak SD bisa “membayar” biaya sekolah dengan membawa sampah plastik. Ide sederhana ini bukan hanya membantu lingkungan, tetapi juga membentuk karakter generasi muda agar lebih sadar akan tanggung jawab ekologis.
Program seperti ini menggambarkan esensi Tri Hita Karana secara nyata: menjaga lingkungan adalah bentuk ibadah; membantu sesama adalah wujud kasih; dan memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak adalah cara menjaga keseimbangan bumi.

Mengelola Keuangan, Menjaga Kepercayaan
Satu hal yang sering terlupakan dalam gerakan lingkungan berbasis komunitas adalah tata kelola keuangan. Padahal, transparansi dan akuntabilitas menjadi fondasi kepercayaan publik. Pentingnya penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK-EMKM) di bank sampah. Dengan sistem ini, setiap transaksi—dari setoran sampah, penjualan hasil daur ulang, hingga pengeluaran operasional—dicatat secara rapi dan terukur. Laporan keuangan pun bisa disusun layaknya perusahaan profesional, lengkap dengan neraca, laba-rugi, dan catatan atas laporan keuangan. Di balik itu, ada nilai spiritual yang melekat. Kejujuran dalam mencatat transaksi dan tanggung jawab dalam mengelola dana mencerminkan ajaran Parahyangan dan Pawongan: bekerja dengan integritas adalah bagian dari dharma, atau kewajiban moral. Akuntansi, yang sering dianggap sekadar urusan angka, dalam konteks ini menjadi alat untuk menjaga harmoni sosial dan kepercayaan antar manusia.

Baca Juga :  Opini : 5 September 2023 Koster Berakhir Masa Jabatannya, Membangun Bali ke Depan Harus Lebih Bertanggung Jawab

Tantangan dan Peluang ke Depan
Meski potensinya besar, masih banyak tantangan di lapangan. Banyak pengelola bank sampah belum memiliki kemampuan akuntansi yang memadai, sehingga sistem pencatatannya masih manual dan tidak seragam. Di sisi lain, dukungan teknologi digital masih minim, padahal digitalisasi bisa sangat membantu efisiensi dan akurasi data. Selain itu, partisipasi masyarakat sering kali naik-turun. Antusiasme tinggi di awal kadang tidak bertahan lama jika tidak ada dukungan berkelanjutan. Di sinilah peran nilai Tri Hita Karana kembali penting—sebagai energi moral yang menjaga komitmen sosial. Ketika masyarakat melihat kegiatan memilah sampah bukan sekadar kerja fisik, tapi sebagai bentuk bakti dan tanggung jawab bersama, maka semangat itu akan bertahan lebih lama. Pemerintah daerah dan lembaga pendidikan juga punya peran besar. Pendidikan lingkungan berbasis nilai budaya lokal perlu diperkuat, terutama di sekolah-sekolah dan universitas. Kampus, misalnya, bisa menjadi laboratorium sosial untuk mengembangkan model bank sampah digital, riset tentang akuntansi lingkungan, hingga inovasi ekonomi sirkular yang berpijak pada budaya lokal.

Tri Hita Karana: Dari Bali untuk Dunia
Konsep Tri Hita Karana sebenarnya sangat relevan dengan gerakan global Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB. Nilai keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Bahkan, Bali pernah menjadi tuan rumah forum internasional bertajuk “Tri Hita Karana Forum” yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dunia untuk membicarakan investasi berkelanjutan. Dengan demikian, Tri Hita Karana tidak hanya milik masyarakat Bali. Nilai ini bisa menjadi inspirasi bagi seluruh bangsa Indonesia tentang bagaimana kearifan lokal dapat menjadi fondasi etika global. Dalam era krisis lingkungan dan ketimpangan sosial seperti sekarang, dunia membutuhkan nilai-nilai yang menyeimbangkan kemajuan dengan keberlanjutan, dan spiritualitas dengan sains.

Baca Juga :  Dubes Inggris Apresiasi Gubernur Bali Wayan Koster Mampu Tangani Pandemi Covid-19

Menumbuhkan Harmoni dari Sampah
Apa yang tampak sepele seperti botol plastik atau bungkus makanan ternyata menyimpan potensi besar untuk mengubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat. Melalui bank sampah, sampah yang tadinya dianggap beban bisa berubah menjadi sumber berkah baik secara ekonomi, sosial, maupun spiritual. Gerakan ini mengajarkan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal teknologi canggih atau kebijakan global, melainkan soal niat dan nilai. Ketika manusia hidup dengan kesadaran akan hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama, dan alam, maka keberlanjutan bukan lagi sekadar target, tetapi gaya hidup. Seperti filosofi Bali yang mengatakan, “Jagat luwih becik yen manusa sadar” yang maknanya dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika manusia sadar akan perannya menjaga keseimbangan. Bank sampah hanyalah salah satu wujud kecil dari kesadaran itu. Namun dari langkah kecil inilah, harmoni besar antara manusia dan alam bisa tumbuh kembali.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here