Wisatawan Australia Menuju Jepang, Tidak Lagi Memilih Bali Sebagai Destinasi Primadona

0
310

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Brand Bali terus melemah, ada indikasi awal curve pariwisata Bali mengalami kejenuhan, pada posisi menuju “declining”. Apakah para pengambil kebijakan peduli ? Agaknya tidak, tetap dengan cara berpikir kuno, “tokh turis akan datang ke Bali karena keunikannya.

Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi dan kecenderungan masa depan, Rabu 22 April 2026.

Dikatakan, cara berpikir, bisa saja “out of date”, malas dan bahkan (maaf) dungu. Risiko saja dari hasil pemilu yang elektoral, lahir pemimpin populer secara elektoral (tidak peduli dari mana mendapatkannya), tetapi tidak kompeten dalam kepemimpinan.

“Apalagi mengantisipasi krisis dan menyusun skenario cerdas merumuskan masa depan. Harga dan biaya politik “suryak siu” yang super mahal,” katanya.

Dikatakan, data statistik pasca Bom Bali memberikan indikasi. Pasca Bom Bali Satu, 12 Oktober 2002, wisatawan Australia turun tajam, tetapi setelah 10 bulan, Agustus 2003 naik tinggi, lebih tinggi dari posisi sebelum Bom Bali satu.

“Teman-teman di Bappeda Bali mengulasnya, dilaporkan ke Gubernur Dewa Made Beratha. Sekarang apa kerja Bappeda Bali? Jangan-jangan sebatas menjustifikasi ambisi proyek mercu suar Gubernur Koster?”

“Sekarang muncul lagi istilah Balinomic. apa yang dimaksudkan Balinomics, ilmu ekonomi tentang Bali oleh panitia?”

Dikatakan, dalam tradisi Bali semenjak kepemimpinan Cri Aji Jayapangus di abad ke 10, ekonomi Bali bercirikan satuan ekonomi kecil, produktif untuk kesejahteraan bersama. Dalam literatur ekonomi humanis disebut ekonomi sosialistik religius.

Menurut Jro Gde Sudibya, dalam khazanah ilmu ekonomi, bisa merujuk buku ternama dunia “Small is Beatiful”, Kecil Itu Indah, dari ekonom humanis Inggris EF.Sumacher.

Memang, ada kemiripan dengan model ekonomi yang dikembangkan Mahatma Gandhi di India, ekonomi Sarva Daya, ekonomi kesejahteraan bersama. Dalam retorika Soekarno, ekonomi yang memihak Si Marhaen dalam melawan Ketidakadilan Struktural ekonomi politik.

Baca Juga :  Gandeng Desa/Kelurahan, Pemkot Denpasar Telah Salurkan 7.376 Paket  Sembako Bagi Masyarakat Yang Masih Jalani Isoman

Dikatakan, dalam konteks peningkatan kualitas pariwisata hampir mandek dan jenuh. Sementara itu, dana APBD Badung sekitar Rp.12 T hanya dihambur-hamburkan untuk merawat elektabilitas baca kekuasaan.

Sumber mata air Badung sebagian besar ada di Alas Pengejaran, Kintamani Barat. Alih fungsi lahan berlangsung dashyat di sana. Soal waktu saja Badung, Gianyar dan Denpasar akan mengalami krisis air. Bangli dalam proyek “Badung angelus bhuwana” menyumbang Rp.3 M buat Bangli, tidak ada dana Rp.1 pun untuk program reboisasi hutan di Kintamani Barat.

Gelising cerita beberapa kenalan di Badung cerita aktivitas meceki meningkat di banjar-banjar. Seorang politisi di Gianyar dengan bangga melakukan “posting” di medsos membuka festival meceki di rainan Banyupinaruh.

“Masyarakat Bali paham, meceki kegiatan judi, tetapi yang lebih berbahaya waktu produktif habis di meja cekian. Bali mengalami mengalami proses perusakan sistemik, justru “dipelopori” pemegang atribut kekuasaan. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan Bali,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi dan kecenderungan masa depan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here