11 Tahun BTA, 38 Tokoh dan Institusi Dapat Apresiasi Pariwisata Bali 

0
30

Balinetizen.com, Denpasar-

Bali Tourism Awards (BTA) 2026 kembali digelar untuk memberikan apresiasi kepada individu, pemimpin hospitality, hotel, resort, villa, perusahaan, dan institusi yang berkontribusi terhadap perkembangan pariwisata Bali. Mengusung tema “Eleven Years of Excellence, Inspiring the Future”, ajang yang memasuki tahun ke-11 ini berlangsung di Bali Beach Convention Center, The Sanur Special Economic Zone for Health & Wellness, Sanur, Denpasar, Senin malam, 14 September 2026.

Berdasarkan siaran pers penyelenggara, sebanyak 38 penghargaan diberikan dalam tiga kategori, yakni 13 penghargaan untuk Personal & Hospitality Leaders, 14 penghargaan untuk Hotel, Resort & Villa, serta 11 penghargaan untuk Company & Institution. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi, inovasi, kepemimpinan, dan kontribusi nyata berbagai pihak dalam membangun pariwisata Bali.

President ITTA Foundation, Panca R. Sarungu, mengatakan Bali Tourism Awards tidak sekadar menjadi seremoni penghargaan, tetapi juga bentuk apresiasi bagi orang-orang yang berada di balik keberhasilan Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia.

Menurutnya, Bali tidak dibangun oleh satu pihak saja. Perkembangan pariwisata Bali merupakan hasil kontribusi berbagai individu, pelaku usaha, institusi, pemerintah, serta sektor pendukung lainnya. Karena itu, para penerima penghargaan diharapkan terus berkreasi, berinovasi, dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pariwisata Bali.

“Eleven Years of Excellence bukan hanya tentang sebelas tahun perjalanan Bali Tourism Awards, tetapi tentang bagaimana kita terus menjaga standar excellence dan menjadikannya inspirasi untuk masa depan,” ujar Panca.

Ia menegaskan, masa depan pariwisata Bali membutuhkan pendekatan yang lebih luas atau beyond tourism. Menurutnya, pariwisata tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pariwisata, tetapi juga melibatkan berbagai kementerian, lembaga, industri, masyarakat, dan sektor lainnya.

Panca berharap penyelenggaraan BTA dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan pariwisata Bali harus diikuti dengan upaya menjaga destinasi, budaya, serta nilai-nilai yang menjadi identitas Pulau Dewata. Tema “Eleven Years of Excellence, Inspiring the Future” juga dimaknai sebagai ajakan untuk tidak hanya melihat perjalanan sebelas tahun terakhir, tetapi mulai mempersiapkan arah pariwisata Bali hingga puluhan tahun mendatang.

“Setiap penerima penghargaan memiliki kontribusi dan cerita yang berbeda, tetapi semuanya memiliki satu kesamaan, yaitu memberikan sesuatu yang berarti bagi pariwisata Bali,” katanya.

Panca menjelaskan, proses nominasi penerima penghargaan telah dilakukan sejak tiga hingga enam bulan sebelum acara. Selain melalui pencalonan terbuka dan nominasi mandiri, pihak penyelenggara juga secara aktif mencari kandidat yang dinilai memiliki kontribusi penting, tetapi belum mengajukan diri.

Proses penilaian dilakukan melalui sejumlah metode, antara lain online assessment, reputation management, pemantauan media sosial, desk research, serta masukan dari Board of Advisors. Kontribusi Board of Advisors memiliki bobot sekitar 30 persen dan kemudian digabungkan dengan hasil pemungutan suara daring serta penelitian pendukung lainnya.

Baca Juga :  Lantik Direksi Perumda Pasar dan Pangan MGS Periode 2026–2031 

“Penilaian ini kami lakukan secara komprehensif agar tidak bersifat sepihak. Kami ingin menjaga independensi, kredibilitas, dan konsistensi Bali Tourism Awards,” ujarnya.

Board Advisor Bali Tourism Awards, I Ketut Swabawa, mengatakan BTA memiliki tiga nilai utama yang terus dikembangkan, yakni keberlanjutan, konektivitas, dan ekosistem.

Menurut Ketut, keberlanjutan menjadi nilai penting karena Bali Tourism Awards mampu bertahan melewati masa pandemi. Ajang ini telah dimulai sejak sekitar 2012 dan sempat mengalami penundaan akibat pandemi sebelum kembali diselenggarakan hingga memasuki tahun ke-11.

Penghargaan yang diberikan juga terus diperluas. Tidak hanya menyasar pelaku usaha pariwisata dan pemimpin hospitality, BTA turut memberikan apresiasi kepada tokoh pemerintah, budayawan, museum, tokoh pendidikan, lembaga pendidikan, serta berbagai pihak yang berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia pariwisata.

Ketut menyebut revitalisasi pariwisata membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan industri. Pendekatan dari atas ke bawah melalui kebijakan pemerintah harus berjalan beriringan dengan gerakan dari bawah ke atas yang dilakukan oleh pelaku industri dan masyarakat.

Nilai kedua adalah konektivitas. Ketut menilai pariwisata tidak dapat berkembang hanya melalui regulasi, tetapi membutuhkan hubungan yang kuat antara pemerintah, industri, masyarakat, maskapai, lembaga pendidikan, tokoh nasional, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Ia menambahkan, keamanan, toleransi, dan harmoni sosial juga menjadi bagian penting dalam menjaga konektivitas pariwisata Bali. Menurutnya, promosi hotel dan destinasi tidak akan berjalan maksimal apabila kondisi keamanan dan keharmonisan masyarakat tidak terjaga.

Sementara itu, nilai ketiga adalah ekosistem. Ketut mengatakan ekosistem pariwisata Bali semakin luas dengan munculnya berbagai wajah dan pelaku baru. BTA juga tidak hanya memberikan penghargaan kepada orang Bali, tetapi kepada siapa pun yang memberikan kontribusi bagi perkembangan Bali.

“Penerima penghargaan tidak hanya berasal dari Bali Selatan, tetapi juga dari Nusa Penida, Bali Utara, dan Bali Timur. Ini menunjukkan bahwa ekosistem pariwisata Bali semakin berkembang,” katanya.

Head of Program MM International BINUS Business School, Dr. Dewi Tamara, MM., MS., mengatakan BINUS telah bekerja sama dengan Panca R. Sarungu dan ITTA Foundation selama 11 tahun. Dukungan tersebut sejalan dengan misi BINUS untuk memberdayakan dan mengembangkan bangsa.

Dewi menjelaskan, BINUS berperan sebagai mitra riset bagi ITTA Foundation untuk membantu menjaga independensi proses penilaian. Menurutnya, transformasi industri pariwisata membutuhkan sumber daya manusia yang adaptif, inovatif, dan mampu menghadapi perubahan global.

Ia menilai inovasi dalam pariwisata tidak hanya berkaitan dengan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Indonesia memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan, termasuk wisata olahraga dan wisata bahari.

“Tahun ini kami melihat adanya inovasi dalam sport tourism yang sebelumnya belum muncul. Indonesia memiliki banyak potensi, sehingga kolaborasi antara hotel, dunia pendidikan, penyelenggara, asosiasi, dan masyarakat menjadi sangat penting,” ujarnya.

Baca Juga :  Bupati Giri Prasta Hadiri Pengajian Muslimat NU dan Kunjungi Pondok Pesantren Thariqul Mahfudz

Dewi berharap kolaborasi tersebut dapat mendorong wisatawan untuk tinggal lebih lama, melakukan kunjungan ulang, dan bahkan merencanakan perjalanan berikutnya sebelum meninggalkan Bali.

“Kolaborasi antara industri dan pendidikan menjadi kunci agar pariwisata Indonesia, khususnya Bali, tidak hanya unggul saat ini tetapi juga memiliki daya saing yang kuat untuk masa depan,” katanya.

General Manager Bali Beach Hotel The Heritage Collection dan The Meru Sanur, Ed Brea, mengatakan pengembangan pariwisata harus dilakukan dengan mengutamakan kepentingan destinasi. Menurutnya, hotel dan pelaku industri harus menempatkan Indonesia, Bali, dan Sanur sebagai prioritas sebelum kepentingan masing-masing perusahaan.

Ia menilai pengembangan kawasan ekonomi khusus Sanur memberikan dampak positif terhadap peningkatan perhatian wisatawan dan pelaku usaha terhadap kawasan tersebut. Karena itu, pelaku industri perlu bekerja sama dengan masyarakat setempat agar pertumbuhan pariwisata juga memberikan manfaat bagi komunitas.

Ed juga menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia di sektor hospitality. Ia mengatakan industri perhotelan menghadapi tantangan dalam menarik minat generasi muda yang kini banyak tertarik pada bidang teknologi informasi dan kecerdasan buatan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pihaknya bekerja sama dengan lebih dari 60 sekolah dan saat ini menampung sekitar 170 peserta magang di hotel. Program tersebut diharapkan dapat memperkenalkan industri hospitality kepada generasi muda sekaligus menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas.

Menurut Ed, penghargaan kepada individu berprestasi penting untuk menjaga semangat dan loyalitas sumber daya manusia di industri pariwisata. Selain itu, proses transfer pengetahuan dari para pemimpin industri kepada generasi berikutnya juga harus terus dilakukan.

Ia mengatakan standar internasional tetap penting diterapkan dalam pengelolaan hotel, tetapi tidak boleh menghilangkan identitas Indonesia dan Bali. Para pekerja hospitality perlu diberi ruang untuk menunjukkan kepribadian, keramahan, dan ketulusan dalam memberikan pelayanan.

“Hospitality bukan hanya tentang mengikuti standar, tetapi juga tentang menunjukkan kepribadian dan hati. Hal itu yang membuat wisatawan ingin kembali dan mengingat pengalaman mereka di Bali,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, sambutan Gubernur Bali, Dr. I Wayan Koster, M.M., dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Bali, I Wayan Sumarajaya, yang hadir mewakili Gubernur Bali. Dalam sambutannya, Koster menyampaikan bahwa masa depan pariwisata Bali harus diarahkan pada kualitas, karakter, budaya, dan keberlanjutan.

“Pariwisata Bali ke depan harus terus bergerak menuju pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Kemajuan industri pariwisata tidak hanya dilihat dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga budaya Bali, meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat ekonomi masyarakat, serta memastikan Bali tetap menjadi destinasi dunia yang memiliki karakter dan nilai luhur,” demikian isi sambutan tersebut.

Baca Juga :  Menhub Optimis Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Selesai Akhir 2021

Koster juga menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Bali Tourism Awards yang memberikan penghargaan kepada para pelaku dan pemimpin pariwisata yang telah berkontribusi dalam menjaga serta meningkatkan kualitas pariwisata Bali.

Board of Advisor Bali Tourism Awards, Sandiaga Salahuddin Uno, menyampaikan bahwa potensi pariwisata Indonesia yang besar perlu diimbangi dengan kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, industri, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat.

Menurut Sandiaga, Bali telah menjadi tolok ukur pariwisata dunia. Karena itu, apresiasi seperti Bali Tourism Awards diharapkan dapat mendorong pelaku industri untuk terus meningkatkan kualitas layanan, menciptakan inovasi, serta menghadirkan pariwisata yang memberikan dampak ekonomi dengan tetap menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan.

Selain pemberian penghargaan, penyelenggaraan BTA 2026 juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun pariwisata Bali. Kawasan The Sanur yang mengintegrasikan sektor pariwisata, kesehatan, wellness, dan MICE dinilai menjadi ruang yang relevan untuk mendorong arah baru pengembangan destinasi.

Adapun penerima penghargaan dalam kategori Personal & Hospitality Leaders terdiri atas Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.; Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.; Dr. I Wayan Koster, M.M.; I Kadek Agus Arya Wibawa, S.E., M.M.; Dr. Anthony Leong, S.Sos., M.I.Kom.; Drs. Tantowi Yahya, S.E., M.B.A.; Dr. Christine Hutabarat, S.S., M.M.; Ida Bagus Kharisma Wijaya; Ed Brea; Ir. I.B. Ngurah Agung Kumbayana; Ida Bagus Sudirahardja; I Gusti Agung Alit Kencana, S.E.; dan I Nyoman Gede Pariatha.

Penerima penghargaan kategori Hotel, Resort & Villa meliputi Arkaluna Resort & Adventure; Prama Sanur Beach Bali; Bali Beach Hotel The Heritage Collection; Discovery Kartika Plaza Hotel; The Meru Sanur; The Trans Resort Bali; HARRIS Hotel & Residences Sunset Road; Nikhila Seminyak Bali; Lovina Beach Club & Resort; The Komu by Kelola Hospitality; Candi Beach Resort & Spa; Sanctoo Suites & Villas; Uma Sapna; dan Blue Harbor Nusa Penida Beach Resort.

Sementara itu, kategori Company & Institution diberikan kepada Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC); Malaysia Airlines; Bali Beach Convention Center; Taru Pramana Spa & Wellness; Marine Safari Bali; Lidah Lokal at ARTOTEL Sanur Bali; PT Amari Bali Ananta; MASÉ Kitchen; PT Vilon Group Bali (VGB); Yayasan Pendidikan Kertha Wisata; serta Elizabeth International Hotel & Business School.

Dengan demikian, Bali Tourism Awards 2026 memberikan total 38 penghargaan yang mencakup 13 Personal & Hospitality Leaders, 14 Hotel, Resort & Villa, serta 11 Company & Institution. Penghargaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi tanggung jawab baru bagi seluruh penerima untuk terus berkembang, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat sumber daya manusia, menciptakan inovasi, dan menjaga keberlanjutan pariwisata Bali.

BN-RADHA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here