117 Tahun Kebangkitan Nasional, Bangsa yang Gagal Menangkap Elan Vitalitas Sejarah

0
205

Balinetizen.com, Denpasar

117 Tahun Kebangkitan Nasional, Bangsa yang Gagal Menangkap Elan Vitalitas Sejarah. Hal itu dikatakan Jro Gde Sudibya, intelektual, pengamat kebudayaan, Selasa 20 Mei 2025 di Denpasar.

Dikatakan, tantangan 117 Tahun Kebangkitan Nasional antara lain, saat ini masyarakat kehilangan panutan dalam rujukan etika moral, kepentingan personal, kelompok kecil – vested interest – kepentingan bercokol, nyaris “menghela” prilaku sebagian besar orang.

Tantangan lainnya, kata Jro Gde Sudibya adalah sistem meritokrasi, berbasis kompetensi dan prestasi, nyaris ditinggalkan, diganti dengan: korupsi, kolusi, nepotisme dan cengkeram kekuatan ordal (orang dalam), pada hampir semua sisi kehidupan: birokrasi, penegakan hukum dan juga di dunia pendidikan.

“Saat ini terjadi anomali, orang tidak setia memegang teguh profesinya, dalam kehidupan permisif yang serba boleh, dengan tingkat disiplin sosial yang nyaris sirna. “Aji mumpung” nyaris menjadi kata “kunci” kehidupan,” kata Jro Gde Sudibya seraraya menambahkan bahasa nyaris kehilangan makna, kata tunjangan prestasi, tanpa prestasi, atribut kinerja tanpa kinerja.

Tantangan berikutnya, lanjut Gde Sudibya adalah produktivitas ekonomi bangsa yang rendah. Mayoritas nilai ekspor dari hasil tambang: batu bara, nikel, minyak sawit, dengan nilai tambah rendah plus merusak lingkungan dan meminggirkan masyarakat adat.

” Nilai ekspor produk industri dengan kandungan bahan baku dan bahan lainnya di atas 50 persen. Nilai tambah -value added- ekonomi rendah, gambaran “kerumunan” angkatan kerja dengan prestasi pas-pasan (marginal),” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, setelah 117 Tahun Kebangkitan Nasional, budaya kerja produktif tidak bertumbuh, demikian juga budaya kewirausahaan – enterpreneurship culture -, yang menjadi penentu kemampuan saing negara bangsa. Yang justru bertumbuh, budaya instan, anti proses, krumunan untuk meraih pekerjaan kekuasaan dan atau “inner circle: kekuasaan.

Baca Juga :  Wabup Suiasa Hadiri Penyerahan Hibah Tanah Pemprov Bali di Kabupaten Badung

“Budaya: berani menghadapi tantangan, mengambil risiko -risk taking culture-, invensi dan inovasi, terdesak kebelakang oleh “budaya” instan, “aji mumpung” dan sekadar menjadi pelayan -“parekan” kekuasaan,” kata Jro Gde Sudibya, intelektual, pengamat kebudayaan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here