Terancam Punah, Ni Made Ruastiti Kembangkan Wayang Wong Bali Dengan Konsep Millenial 4.0

Tampilan Wayang Wong Bali Dengan Konsep Millenial 4.0
Gemuruh penonton tak henti memberikan applaus tepuk tangan saat pertunjukan Sendratari Wayang Wong Inovatif ‘Cupu Manik Astagina’ usai dipersembahkan oleh ratusan anak SD hingga SLTA hasil besutan Koreografer handal Dr. Ni Made Ruastiti, SST. MSi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar saat pembukaan Jambore Pasraman V di Denpasar Bali 2019 yang dihadiri oleh Menteri Agama RI, Lukman Syarifudin, di Hotel Aston Denpasar, Rabu (3/7/2019)
“Dengan alur cerita kekinian dan tata cahaya panggung yang gemerlap memukau, hal ini merupakan inovasi baru dimana baru kali ini pementasan Wayang Wong dimainkan oleh anak-anak muda millenial sebab biasanya hanya ‘patut’ dilakukan oleh orang-orang tua, hal inilah juga menunjukkan bahwa ada kegairahan baru (passion) generasi muda untuk melestarikan keberadaan wayang wong yang hampir punah di Bali,” kata Dr. Ni Made Ruastiti, SST. MSi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Dengan dukungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Ristek Dikti), Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar bekerjasama dengan sanggar Paripurna Gianyar tengah mengembangkan wayang wong milenial.
“Kajian seni pertunjukan ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal yaitu Seni pertujukan wayang wong merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pertunjukan wayang wong terancam punah di Bali, pada hal seni pertunjukan ini memiliki nilai edukasi yang luhur bagi pembangunan karakter (character building) generasi penerus (milineal) saat ini,” terang Ibu muda berparas cantik ini.
Walaupun seni pertunjukan ini  mengandung nilai-nilai budaya adi luhung tetapi kenyataannya seni pertunjukan ini hanya diminati oleh kelompok orang tua saja. Susahnya mencari generasi penerus, dan minimnya minat para generasi muda untuk menekuni seni pertunjukan ini membuat Wayang Wong di Bali semakin terpinggirkan dan terancam punah. Padahal, Bali mengembangkan pariwisata budaya (Vickers,1989), yang mengandalkan seni dan budaya sebagai daya tarik wisatanya.
Dr. Ni Made Ruastiti, SST. MSi
“Untuk itu, perlu dilakukan upaya pelestarian melalui pendekatan strategis agar Wayang Wong diminati masyarakat luas khususnya para generasi muda sebagai penerus bangsa.
Kedepan, Diharapkan semua banjar/desa pakraman di Bali yang secara alami memiliki potensi seni-budaya bisa turut terlibat dalam pemeliharaan dan pengembangan seni-budaya (wayang wong) yang luhur ini.
Wayang syarat akan nilai edukatif untuk membangun karakter generasi milenial. Nilai-nilai seperti kejujuran, kebenaran, heroisme, patriotisme, etos kerja dan sebagainya bisa dipelajari dalam seni wayang.Wayang juga mengandung filosofi kehidupan tentang nilai-nilai kebenaran (logika), masalah sopan santun dalam pergaulan sosial (etika), serta ekspresi estetis (estetika)yang teramat penting untuk mengasah nurani, kepekaan sosial yang kini semakin langka.
“Wayang wong inovasi ini sengaja dikemas sedemikian rupa agar disukai anak-anak yang kini tersandera oleh aneka permainan (games modern). Inovasi wayang wong milenial ini meliputi penggubahan kisah/cerita dengan sentuhan kekinian, pengaturan setting/ plot cerita, penokohan serta adanya pemanfaatan teknologi tata panggung sesuai perkembangan IT saat ini. inovatif juga mencakup  ragam gerak, koreografi, lakon, penghayatan karakter masing-masing tokoh, dialog dan gending iringan seni pertunjukan tersebut,” pungkas Ruastiti. (hd)
Baca Juga :
Pemkab Tabanan Raih Penghargaan Pemda Terbaik Dalam Pengelolaan DAK Fisik, Dana Desa dan KUR-Umi Tahun 2021

Leave a Comment

Your email address will not be published.