47% Naik! Kasus WNA di Bali Picu Travel Warning Korea Selatan

0
183

 

Balinetizen.com, Denpasar

Peringatan perjalanan (travel warning) dari Korea Selatan terkait isu keamanan di Bali dinilai beralasan. Data kepolisian menunjukkan, kejahatan yang melibatkan warga negara asing (WNA), baik sebagai pelaku maupun korban, meningkat sekitar 47 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, sejumlah kasus menonjol terjadi di kawasan wisata. Beberapa di antaranya bahkan dikaitkan dengan jaringan kriminal lintas negara.

Kapolda Bali, Daniel Adityajaya menegaskan pihaknya tidak akan mentoleransi kejahatan yang melibatkan WNA. Polda Bali telah menggelar Operasi Sikat Agung 2026 untuk menekan kriminalitas, khususnya di wilayah pariwisata.

“Laporkan segera jika menemukan tindakan mencurigakan, baik oleh orang asing maupun lokal,” tegasnya, beberapa waktu lalu kepada media di Denpasar.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Bali, Felucia Sengky Ratna, menyatakan seluruh personel kini dilibatkan dalam deteksi dini.

Petugas diminta aktif mengumpulkan data, memetakan potensi kerawanan, hingga meningkatkan jam pengawasan di seluruh kantor imigrasi kabupaten/kota.

“Ini bagian dari komitmen menjaga stabilitas keamanan seiring meningkatnya aktivitas WNA di Bali,” ujarnya.

Pemerhati pariwisata sekaligus pendiri Hey Bali, Giostanovlatto, menilai persoalan ini tidak semata soal peningkatan kasus, melainkan pergeseran persepsi global terhadap Bali.

Menurutnya, travel warning dari negara besar seperti Korea Selatan dapat memengaruhi keputusan wisatawan, mulai dari diskusi keluarga hingga kebijakan perusahaan perjalanan.

“Yang ditangkap wisatawan bukan hanya kasusnya, tapi sinyal kekhawatiran dari pemerintah mereka,” jelasnya, Senin (6/5/2026).

Narasi ‘Bali Aman’ Diuji Realitas

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster tetap menyatakan bahwa Bali dalam kondisi aman.

Namun di tengah arus informasi global, narasi tersebut tidak lagi berdiri sendiri. Sejumlah celah mulai disorot, mulai dari regulasi transportasi yang belum merata, standar keamanan akomodasi, hingga penegakan hukum yang dinilai masih reaktif.

Baca Juga :  Wagub Cok Ace Harap Festival Desa Konstitusi Mampu Menumbuhkan Kesadaran Masyarakat dalam Berkonstitusi

“Pertanyaannya bukan Bali aman atau tidak, tapi apakah sistem keamanannya berkembang secepat industrinya,” kata Giostanovlatto.

Deretan Kasus Libatkan WNA di Bali

Dalam tiga bulan terakhir, sejumlah kasus besar yang melibatkan WNA antara lain:
Penculikan dan mutilasi terhadap warga Ukraina, dengan 7 tersangka (6 kabur ke luar negeri)

Tiga kasus pelecehan seksual terhadap wisatawan asal China dan Australia di kawasan Nusa Dua, Seminyak, dan Canggu. Penusukan hingga tewas terhadap warga Belanda oleh sesama WNA.

Dan pengungkapan laboratorium narkoba di Gianyar oleh pasangan asal Rusia.
Kemudian, ada produksi film asusila oleh pasangan Rusia–Italia yang kini diproses hukum.

Bali memang belum berada dalam krisis keamanan. Namun, asumsi lama bahwa Bali selalu aman tanpa catatan mulai bergeser.

Peringatan dari Korea Selatan menjadi sinyal penting bahwa destinasi ini kini dilihat lebih realistis—sebagai tujuan wisata dunia yang juga memiliki risiko.(ist)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here