Tunai Kritik dari Netizen, 2.500 Penjor Seharga Rp 3,5 Miliar Sambut G20, Dresta Bali Dijual

0
227

 

Balinetizen.com, Denpasar

Menyambut KTT G20 dan mempercantik Pulau Dewata, Pemerintah Provinsi Bali rencananya akan memasang penjor dibeberapa titik tempat venue G20 berlangsung.

Tak canggung canggung, dana yang dihabiskan untuk membuat 2.500 penjor ini sebanyak Rp 3,5 miliar dan dana tersebut langsung dari Pemerintah Provinsi Bali. Untuk persiapan teknis dan infrastruktur G20 di Bali, diperkirakan pada akhir Oktober ini sudah rampung 100 persen

Pengamat politik Jero Gde Sudibya mengatakan, Sabtu (15/10) kalau alasan melestarikan dresta Bali (DB) jelas ini tak nyambung. Penjor jelas bukan DB. Involusi simbol Penjor sebagai Gunung Toh Langkir mraga Widhi dan sumber kemakmuran. Simbol yang tereduksi, kemudian difungsikan sebagai ornamen, sekadar perhiasan dalam kehidupan yang cendrung sekuleristik materialstik.

Dikatakan, ini menunjukkan bagian kebudayaan yang dijadikan tontonan, dianggap “the other” dalam posisi yang direndahkan. Relasi penonton (superior) yang ditonton (inferior).

“Ini persoalan lama yang perlu dicarikan jalan keluarnya. Simbol sakral dikorbankan, tetapi kompensasinya diposisikan dalam posisi inferior,” katanya seraya menambahka ini sudah tidak sesuai makna penjor dan malah asa kesan pelecehan simbol agama.

Tokoh kritis kelahiran Desa Tajun Buleleng ini mengatakan semestinya penyambutan delegasi G 20 proporsional dan wajar-wajar saja. Orang berpikir kritis bertanya apa yang didapat Bali dan Indonesia dari perhelatan ini.

“Adeh ini gubernur kok G20 pasang penjor? Habis sudah dresta Baline dijual ini. Waduuh, perampasan simbol sangat luar biasa yang menggambarkan krisis diri para pelakunya.
Termasuk menjual istilah Dresta Bali untuk tujuan kekuasaan personal,” tanyanya.

“Iya kalau bicara dresta Bali kemudian menggunakan penjor utk menyambut tamu, apakah itu dresta Bali?,” tanya Gede Sudibya lagi.

Dikatakan, untuk Bali pembaruan image sebagai tourist destination. Apakah akan berdampak nyata, dengan jumlah turis yang lebih banyak, kita lihat saja berikutnya, di tengah ekonomi global yang suram.

Baca Juga :  Bupati Giri Prasta Hadiri HUT Sekaa Teruna Se-Desa Adat Kerobokan

Dikatakan, penggunaan simbol Penjor sebagai simbolik Gunung Toh Langkir mraga lingga Widhi dan sumber kemakmuran dimulai di era kepemimpinan Cri Aji Jaya Kasunu, raja Bali di era Bali Mula.Garis raja-raja Bali Mula dalam “rumpun” Cri Aji Jayapangus, lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Di desa-desa Bali pegunungan, pengampu peradaban Bali, Ida Bharara Cri Aji Jaya Kasunu “dilinggiyang ” di Pura Dalem, ciri dari spirit kekuatan dan keperkasaan.
Spirit ini sangat diperlukan oleh krama Bali yang sekarang “digempur” habis oleh kekuatan ekonomi materialisme dan s8ekularisme yang “berbungkus”agama.

Dikatakan, Cri Aji Jaya Kasunu bersama ” seniornya” Cri Aji Jayapangus, peletak dasar DRESTA BALI, berangkat dari sistem keyakinan Tuhan Wisnu yang diwariskan oleh Rsi Markandya, peletak dasar pembangunan Pura Besakih, “bhakta” yang datang dari Obhisa India.

Disebutkan, prasasti tertua di Bali: Sukawana, Buahan, Jullah, secara tersurat memberikan penggambaran terhadap penjelasan butir 2, dan sampai sekarang melandasi, mewarnai cara hidup – way of life – pengempon pura: Dalem Balingkang, Pucak Tegeh Penulisan, Bale Agung Cenigaan, Pucak Sinunggal dan sejumlah Pura tua lainnya di Bali, seperti: Pasar Agung, Batukaru, Petali Senganan.

Dalam pandangan ekonom Faisal Basri, Indonesia tidak mendapatkan kemanfaatan ekonomi dari pertemuan ini, karena pengambilan keputusannya berdasarkan konsensus, kalau tidak ada kesepakatan, keputusan tidak diambil. Dalam nuansa perang semakin sengit dan terbuka antara Ukraina – Rusia, sudah tentu sangat sulit untuk menciptakan konsensus antara AS dan negara-negara Eropa dengan Rusia dan juga China.

“Titiknya sudah ditentukan dari Bandara Ngurah Rai ke venue-venue G20. Ini programnya dari Pemprov Bali tapi nanti akan ditugaskan pada Desa Adat yang dilintasi diwilayahnya. Design ( penjor)nya juga sudah diberikan,” kata, Gubernur Bali, Wayan Koster pada, Jumat 14 Oktober 2022.
.
Nantinya jumlah penjor yang akan dipasang sebanyak 2.500 penjor. Dan karena pada tanggal 12 November 2022 mendatang, Delegasi dari berbagai Negara akan tiba di Bali pemasangan penjor akan dilakukan pada tanggal 9-10 November. Dikatakan Koster, penjor yang akan dipasang ini merupakan penjor yang istimewa seperti penjor yang sering dilombakan. (Tim MB)

Baca Juga :  Ny Putri Koster Apresiasi Pasar Kaget karena Meningkatkan Semangat Gotong Royong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here