Rembug Pangan di Bali: Upaya Menjaga Stabilitas Ketahanan Pangan di Tengah Harga Beras Tinggi

0
186

 

Balinetizen.com, Denpasar

 

Para Kepala dinas pertanian dan ketahanan pangan dari seluruh Indonesia, bersama dengan para tokoh dan asosiasi pangan serta pejabat tingkat tinggi, berkumpul di Bali untuk membahas isu-isu terkait ketahanan pangan, Jumat 15 September 2023.

Pertemuan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas nasional ketahanan pangan Indonesia, mengingat lonjakan harga beras yang signifikan di pasaran.

Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi menyoroti isu harga beras yang tinggi, ia menjelaskan bahwa pertemuan ini dihadiri oleh sekitar 700 peserta dari seluruh Indonesia.

Tujuannya adalah untuk mengkoordinasikan upaya penanganan masalah pangan, termasuk Satgas Pangan dan Asosiasi, guna menjaga stabilitas harga beras yang kini meroket.

Adi menegaskan bahwa saat ini, stok beras nasional masih aman dengan jumlah sekitar 1,5 juta ton. Namun, mengingat tingginya harga beras, ia meminta agar bantuan beras segera disalurkan kepada warga miskin.

Meskipun inflasi meningkat karena harga beras yang tinggi, Adi mencatat bahwa pada bulan Agustus 2023, terjadi deflasi sekitar 0,34 persen. Deflasi sebesar ini dapat dijaga hingga saat ini sekitar 3,2 persen, yang merupakan prestasi positif.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah berencana untuk mendistribusikan 640 ribu ton bantuan pangan senilai Rp8 triliun selama tiga bulan ke depan.

Salah satu faktor yang menyebabkan harga beras tinggi adalah harga gabah yang mencapai Rp7 ribu – Rp8 ribu. Ketersediaan gabah yang terbatas selama setahun terakhir mengakibatkan kebijakan Bulog untuk melepaskan stok beras sebanyak 1,5 juta ton, dengan tambahan 400 ribu ton akan segera masuk ke pasar.

Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan pengusaha Beras Indonesia, Sutarto Alimoesono, membantah bahwa tingginya harga beras disebabkan oleh bencana El-Nino. Hal ini juga disampaikan saat diskusi Rembug Pangan.

Baca Juga :  Mangrove Bali Terancam? Koster Siap Klarifikasi Komitmen BTID dan Hentikan Proyek

Disatu sisi, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menegaskan bahwa harga beras tinggi di Bali bukan akibat bencana El-Nino, melainkan karena panen padi di berbagai daerah di Kabupaten Bali yang tidak bersamaan.

Kepala Departemen dan Stabilisasi Pangan, Dwi Pranoto, menambahkan bahwa ada tiga tantangan yang dihadapi pemerintah dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan, yakni masalah produksi jangka pendek, ketersediaan pasokan, dan peningkatan produksi.(Tri Prasetiyo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here