Balinetizen.com, Denpasar
Sejarah mencatat, kekuasaan di menjelang berakhirnya sering ditandai oleh fenomena kevakuman kekuasaan, karena para aktor politik fokus pada kekuasaan lima tahun ke depan, cendrung abai terhadap kekuasaan yang menghitung bulan akan “sirna”. Hal itu dikatakan, I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi politik, Rabu 31 Januari 2024.
Dikatakan, tetapi kondisi politik yang dihadapi di hari – hari ini tidaklah biasa, anomali, publik mempertanyakan intensitas dan efektifitas kinerja kabinet yang akan berakhir sembilan bulan lagi, 20 Oktober 2024. Dengan sejumlah alasan.
Lanjut Gde Sudibya, Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang seharusnya netral, secara implisit dan ekslisit memihak pada paslon 02, dimana anaknya Gibran ada di dalamnya.
Konsekuensinya, kata dia, publik menangkap kesan Presiden memprioritaskan kampanye untuk pasangan 02 “berbungkus” kunjungan kerja Presiden.
”Publik menyayangkan kampanye “tersebulung” ini dengan menggunakan falisitas negara dan atau simbol negara yang melekat padanya. Kedua, prilaku politik menteri yang merangkap ketua umum, “setali tiga uang”. Publik menangkap tumpang tindih antara peran sebagai menteri dengan ketua umum partai dalam rangka pemenangan partainya,” katanya.
Dikatakan, Negeri ini betul-betul dalam keadaan anomali, kekacauan peran sebagai pejabat publik yang semestinya amanah, dengan prilaku “politic anamals” yang menghalalkan semua cara. (Adi Putra)

