Prof. Machfud MD
Balinetizen.com, Denpasar
Prof. Machfud MD dikenal publik dikenal sebagai pendekar hukum, sudah tentu memegang teguh etika. Rencana pengunduran diri ini, yang direncanakan besok hari Kamis, menkorfimasi bahwa pakar hukum tata negara ini adalah seorang negarawan.
Hal itu dikatakan I Gde Sudibya pengamat politik dan sosial, Rabu 31 Januari 2024, menanggapi mundurnya Prof. Mahfud MD dari Menko Polhukam, rencana Kamis besok akan membawa surat pengunduran dirinya langsung ke Presiden Jokowidodo.
Menurut Gde Sudibya, sebagai Gusdurian, pengikut setia pemikiran Gus Dur, Prof.Machfud sangat paham akan kekuasaan dan jebakan kekuasaan, serta basis etika moral dalam berpolitik.
Dikatakan, untuk tegaknya “fairness”, etika publik dan proses pemilu yang jurdil, seharusnya Prabowo juga mundur sebagai Menhan, Gibran juga mundur sebagai Wali Kota Solo.
”Para menteri yang ketua partai, semestinya lebih bijak dalam kampanye, dan prilaku politiknya tidak tumpang tindih antara pejabat publik dengan politisi yang ingin meraup suara pemilih,” katanya.
Fenomena menarik, mundurnya Prof. Mahfud di Candi Bentar Pura Ulun Danu Tirtha Gangga, Seputih Banyak Lampung. Ini merupakan tempat bersejerah. Di sinilah kejujuran dan moralitas seorang negarawan dipertaruhkan.
Sebagai catatan, jumlah suara orang Bali di Lampung, pasca transmigrasi tahun 1960’an, diperkirakan sekitar 50 persen dari jumlah penduduk Lampung. Mereka, umumnya pendidikan dan ekonominya bagus, jumlah DPRD yang orang Bali di DPRD Lampung cukup significan, yang ke semuanya ada di PDI Perjuangan.
“Fakta ini menggambarkan orang Bali dimanapun mereka berada adalah kaum nasionalis yang sangat mencintai negerinya, siap membela negerinya. Dalam jargon sekarang “NKRI adalah harga mati”,” kata Gde Sudibya.
Semeton Bali di Lampung, menurut Gde Sudibya, merupakan “success story” dari keberhasilan transmigrasi, sekaligus merupakan kekuatan ethos kerja masyarakat Bali di perantauan. Hal yang sama terjadi dengan dengan masyarakat Bali di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.
“Hanya penduduk “diaspora” Bali di Sulawesi Tengah dan juga di Sulawesi Utara, lahir dari politik etis pemerintahan Hindia Belanda tahun 1903 – 1904. Sebagian besar dari mereka berasal dari Buleleng,” katanya.
Menurutnya, pernyataan penting Prof. Machfud disampaikan di “Madya Mandala”sebuah pura di Lampung, kembali Kita diingatkan Prof. Machfud adalah warga NU -Nahdiyin- yang mempunyai ciri kultural, nasionalis dan inklusuf. Prof.Machfud sama dengan mentor politiknya Gus Dur. (Adi Putra)

