Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Revolusi kebijakan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengembalikan perekonomian Bali ke sosialisme religius, sejalan dengan amanat konstitusi.
Hal tersebut dikatakan, I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi Bali dan kecenderungan masa depan, Minggu 29 Desember 2024.
Dikatakan, revolusi kebijakan untuk mengembalikan perekonomian Bali ke sosialisme religius, sejalan dengan amanat konstitusi, perli ada beberapa persyaratan.
Dikatakan, Perlu perubahan paradigma berpikir, “mental switching”, dari pengambil kebijakan dan para pelaku ekonomi, ekonomi kapitalisme termasuk dalam industri pariwisata, dengan motif utama mencari laba, punya potensi merusak alam, karakter manusia Bali dan kebudayaannya, tidak cocok, tidak “tune in” dengan karakter dan budaya masyarakatnya.
Menurutnya, cepat atau lambat akan terjadi penolakan dan perlawanan masyarakat.
Dikatakan, sebuah momentum emas, “golden opportunity” untuk merevisi perekonomian dan pariwisata Bali, sejalan dengan amanat konstitusi.
Bali bisa menjadi model, ekonomi sosialisme religius, berdasarkan konstitusi, tanpa “cawe-cawe”formalisme agama berlebihan, yang pada hakekatnya dasarnya bertentangan dengan Pancasila.
Menurutnya, sosialisme religius yang bercirikan: pemerataan, keadilan dalam proses ekonomi, bersahabat dengan lingkungan alam dan budaya, semestinya menjadi basis dalam perencanaan pembangunan Bali ke depan.
“Perencanaan tata ruang, RTRW di tingkat provinsi, kabupaten, kota, dengan detail tata ruang, merujuk ke prinsip sosialisme religius. Demikian pula semua proses perizinan dari setiap proyek,” kata I Gde Sudibya.
Merujuk ke pemikiran ekonom ternama Inggris EF.Sumacher dalam bukunya yang melegenda “Small is Beautiful”, satuan-satuan ekonomi Bali berskala menengah dan kecil, padat tenaga kerja, mekanisme ekonomi yang berlangsung di dalamnya produktif efisien dengan kandungan pemerataan di dalamnya. Ciri genuine dari ekonomi Bali yang telah mentradisi, yang kemudian dirusak oleh “bunatang” baru bernama kapitalisme pariwisata.
“Momentum masyarakat Bali berbenah, merubah paradigma ekonomi pembangunan dan prilaku ekonomi bisnisnya, untuk penyelamatan Bali dan masa depannya. Penyelamatan Bali oleh orang Bali sendiri, tanpa “cawe-cawe” pihak lain, berangkat dari tradisi kemandirian masyarakatnya yang telah berakar lama,” kata I Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi Bali dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis : Sutiawan

