Refleksi Raina Anggarkasih Prangbakat, Merawat Kesucian Bali, Melalui Prilaku Benar,  Suba Karma 

0
171

 

Selasa, 22 Juki 2025, bertepatan dengan raina Anggarkasih Prangbakat, sasih Kasa, Icaka 1947. Momentum untuk berefleksi dengan sebuah pertanyaan, pulau yang dijuluki Paradise Island -Pulau Sorga- oleh para pencinta dari dunia Barat, disebut sebagai “Bali Lovers”, komunitas masyarakat Barat yang mencintai Bali, karena keindahan alamnya, keramah-tamahan warganya, kedamaian dan kesuciannya yang terjaga, sekarang mengalami multi krisis. Di permukaan tampak, krisis lingkungan, kemacetan lalu lintas yang semakin akut, polusi udara, suhu bumi dalam 70 tahun terakhir telah naik 1, 9 derajat celsius, yang oleh para pakar lingkungan PBB, sebagai suhu yang berbahaya, masyarakat mengalami kesulitan dalam melakukan mitigasi bencana akibat perubahan iklim dan anomali musim. Fenomena sosial yang menyebut beberapa: individualisasi menjadi-jadi, masyarakat tercabut dari akar budayanya, menjadi materialistik, tidak jujur, munafik, pelanggaran massif etika-moral.

Seorang penekun sastra secara berseloroh dengan nada “jokes” berucap, “hiruk pikuk” yang menimpa Bali, karena sebagian besar penghuninya adalah mantan penghuni Neraka, yang karena perbuatannya sekarang di dunia maya, nanti kembali masuk Neraka pasca kematian yang segera akan datang. Bagi kelompok manusia dalam kategori seperti ini: berbohong, memfinah, iri hati, dengki, pelangaran etika susila dan etika sosial, adalah sesiatu yang biasa dan bahkan “lazim”.Nada guyonan yang dapat diterima dari sisi, sebut saja: filsafat, kehidupan, berkarya dan kemudian filsafat kematian.
Dalam tekanan keras kehidupan seperti ini, menjadi menarik disimak wejangan Mpu Ghana, rokhaniwan Jawa yang datang ke Bali diperkirakan tahun Caka 922 (tahun 1,000 Masehi), di era kepemimpinan Bali, Gunapriya Dharmapatni – Udayana Warmadewa.

Pendeta yang memilih jalan Brahmacari, melakukan pilihan Jnana Marga, “melewati” pernak-pernik simbol upakara yang beragam, dalam sebuah “sastra” nya mengemukakan: menjaga kesucian Bali hanya dapat dilakukan dengan karma baik-Subha Karma-, dengan menunaikan “janji kehidupan” di dunia yang maya ini.

Baca Juga :  Ketua AAI Bali Doni Riana Sebut Jadikan Pilpres Aman Dan Jurdil

“Janji kehidupan” dan menunaikannya dalam konteks sastra dewasa ini, bisa ditafsirkan sebagai, menyebut beberapa,pertama,.membayar hutang karma dari kehidupan-kehidupan terdahulu, untuk kemudian terbebaskan dari hukum Samsara, Lahir – Hidup – Mati dan lahir kembali. Kedua,.melawan musuh-musuh besar dalam diri: Sad Ripu, kegelapan “peteng pitu” Sapta Timira, untuk secara ketat dikendalikan, bukan sebaliknya dilipat-gandakan. Ketiga, merujuk karya sastra rokhani Rsi Patanjali, dalam Astangga Yoga Patanjali, hidup adalah adalah sebuah pendakian rokhani, melalui disiplin diri yang kuat dan berkelanjutan: Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Praktihyara, Dharana. Dhyana, Samadhi.

 

Melatih diri untuk.menrmpuh jalan Sepi (dalam artian simbolik Yoga), mencoba untuk meraih kualifikasi diri sebut saja setingkat penghuni sorga, dengan harapan mencapai sorga, kalau bisa sampai tingkat ke Sapta Loka atau Nirmawa dalam pandangan ajaran Budha. Prilaku personal dan sosial seperti ini, berkontribusi dalam merawat kesucian Bali.

Jro Gde Sudibya, aktivis sosial -kebudayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here