“Jejak” Kebijakan Bank Dunia yang Peduli ke Pemerataan Ekonomi, dalam Pendirian LPD di Bali

0
189

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Lahirnya World Bank dan IMF berdasarkan “Washington Consensus”, konsensus dari dunia Barat yang liberal kapitalis untuk merehabilitasi ekonomi dunia pasca Perang Dunia. Kalau ndak salah didirikan di awal tahun 1950’an.

“Kinerja Bank Dunia tidak seluruhnya tidak baik, ambil contoh nyata, pembangunan Politeknik di seluruh Indonesia semenjak tahun 1970’an dibelanjakan dengan hutang Bank berbunga murah,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pembangunan.

Dikatakan, pinjaman lunak -soft loans- dengan bunga per tahun di bawah 3 persen dengan jangka waktu pinjaman 25 tahun. Bahkan tidak sedikit yang hibah berbentuk Grant.

“Bank Dunia mengadopsi pinjaman bagi kaum miskin dari Grameen Bank Bangladesh. Bali memperoleh “kecipratan”, staf Pemda Bali di era Pak Mantra dan beberapa pengusaha Bali sempat belajar ke Grameen Bank,” katanya.

Berdasarkan pengalaman ini, lanjutnya, Pak Mantra mengambil inisiatif yang dijabarkan oleh Dewa Gede Wedagama selalu ketua Bappeda, mendesign kebijakan pendirian LPD dengan dana awal Rp.1 juta rupiah bantuan Pemda Bali. LPD tumbuh pesat,
nilai aset LPD Bali per akhir Juni 2025 sekitar Rp.27 T.

“Dengan dana mengendap di Bank BPD Bali ratusan milyar rupiah, ini berarti LPD Bali “mensubsidi” Bank BPD Bali,” kata Jro Gde Sudibya.

Dikatakan, kembali ke pendekatan kebijakan Bank Dunia, ada 3 ekonom ternama dunia, yang lahir dan bangga di lahirkan di lembah Sungai Indus, yang pendapatnya tidak saja didengar dan bahkan dijadikan rujukan kebijakan Bank Dunia dalam menanggulangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.

Dikatakan, Maghbub Ulhaq, pejabat senior Bank Dunia yang kemudian menjadi Menkeu Pakistan, Muhammad Junus, ekonom pemenang hadiah Nobel Perdamaian pendiri Grameen Bank, yang model bisnisnya banyak diadopsi Bank Dunia di negara-negara Dunia Ketiga.

Baca Juga :  Rapat Paripurna, 6 Fraksi Partai Sampaikan Pandangan Umum Atas Ranperda

“Ekonom yang lahir di Santiniketan India, Amertya Sen, pemenang hadiah Nobel ekonomi tahun 1998, yang risetnya dengan menggunakan pendekatan ekonomteri membedah kemiskinan, ketidak merataan pendapatan yang menjadi rujukan kebijakan Bank Dunia,” katanya.

Dikatakan, merupakan surprise bagi Umat Hindu, jika sempat menyimak rangkaian ceramah Amartya Sen di depan eksekutif Bank Dunia dengan ilustrasi rangkaian kisah yang termuat dalam Upanisad. Rangkaian ceramah ini dibukukan, banyak disimak oleh para ekonom ternama.

“Mari kita menyimak info, berita dengan objektif proporsional, dengan tidak melupakan “pesan” dari seorang wartawan senior New York Time, di era cilik bitedewasa ini, tetap menyiapkan sikap skeptis dalam menyimak limpahan informasi dewasa ini,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pembangunan.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here