13 Hari Pasca Banjir Bandang di Bali, Sejumlah Pertanyaan Menggantung. Akankah Kita Bertanya Kepada Rumput Bergoyang?

0
356

Balinetizen.com, Denpasar-

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan lingkungan, Senin 23 September 2025 di Denpasar.

Dikatakan, 13 hari pasca banjir bandang tidak ada kejelasan dari otoritas publik, pangkal penyebab utama dari banjir ini. Lahir pernyataan-pernyatan spekulatif seperti: hujan amat deras dalam 70 tahun terakhir, derasnya alih fungsi lahan, tutupan hutan DAS Tukad Ayung yang berkurang 97 persen setara dengan 48 ribu ha, RUTR yang lemah “sekali tiga uang” dengan implementasi dan pengawasannya di lapangan. Atau pangkal penyebabnya bauran dari faktor – faktor di atas dengan derajat dampak yang berbeda.

Menurutnya, tanpa kejelasan faktor penyebab ini, situasinya menjadi “gabeng” atau mungkin dibuat “gabeng”, sehingga penyelesaian mendasar untuk menghindari terjadinya beban bencana serupa ke depan konsekuensinya menjadi “gabeng” juga.

“Tidak ada kejelasan strategi dalam: tindakan massal reboisasi, program penyelamatan DAS Tukad Ayung, revisi terhadap RUTR, detail tata ruang kawasan, pemberian perizinan termasuk IMB, ketentuan lebih ketat dalam pemberian izin alih fungsi lahan,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurutnya, jika disepakati berdasarkan studi memadai, pangkal penyebab banjir bandang yang baru lalu karena konversi lahan pertanian tidak terkendali, sudah tentu solusinya pembatasan alih fungsi lahan dengan menggunakan instrumen kebijakan.

Selain itu, lanjut Jro Gde Sudibya, perlu koreksi terhadap RTRW, penegakan hukum tegas di lapangan, tidak lagi kompromi terhadap moral hazard yang berkaitan pengelolaan tata ruang, peruntukan perizinan kawasan dan hal-hal lain yang menyangkut risiko alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Dikatakan, tanpa identifikasi faktor penyebab banjir bandang yang baru lalu, ada risiko pengelolaan lingkungan Bali tetap seperti sebelumnya -business as usual-, pendekatan tetap “proyek” dengan iming-iming keuntungan personal bagi pengelola proyek.

Baca Juga :  Tetap Jaga Akar Budaya, Wagub Giri Prasta Pesankan Anak Muda Jauhi Mabuk dan Narkoba

“Banjir yang baru berlalu tidak melahirkan terobosan kebijakan penyelamatan lingkungan Bali ke depan,” katanya.

Dikatakan, dengan membiarkan persoalannya menggantung, dengan pikiran bawah sadar, tokh sebentar lagi masyarakat akan lupa, maka solusinya bagi keselamatan lingkungan Bali, menyitir lirik lagu seorang penyanyi balada Ebiet G Ade “Akankah kita akan bertanya pada rumput yang bergoyang”.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here