Ketika Alam dan Tata Ruang Bertabrakan, Mengurai Penyebab Banjir Besar Bali 2025

0
257

 

Balinetizen.com, Denpasar

Penyebab banjir besar yang melanda Bali pada 10 September 2025 akhirnya terungkap dalam Pelatihan Peningkatan Kapasitas Jurnalis Peliputan Bencana Alam yang diinisiasi Jawa Pos TV Bali bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kegiatan ini digelar di Quest Hotel San Denpasar, Sabtu (4/10/2025), dan dihadiri oleh sejumlah narasumber dari instansi terkait, termasuk Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar serta BPBD Provinsi Bali.

Kadek Setiya Wati dari BBMKG Wilayah III Denpasar mengungkapkan bahwa salah satu pemicu utama hujan ekstrem yang menyebabkan banjir besar di sejumlah wilayah Bali adalah gelombang atmosfer aktif, atau yang disebut gelombang Rossby (rosbi).

“Ada gelombang rosbi, yang disebabkan oleh topografi dan pemanasan sinar matahari,” jelasnya.

Ia menambahkan, analisis BMKG pada 9–10 September 2025 menunjukkan bahwa fenomena global seperti El Niño dan La Niña saat itu dalam kondisi tidak aktif. Namun, justru gelombang atmosfer aktif tersebut memicu cuaca buruk di Bali.

“Terjadinya hujan sangat lebat bukan hanya didukung oleh satu faktor, melainkan perpaduan antara faktor lokal dan regional. Kelembaban udara yang tinggi serta suhu muka laut yang hangat membuat penguapan meningkat,” ungkapnya.

Selain itu, gangguan atmosfer skala lokal juga memperparah kondisi cuaca. “Massa udara berkumpul di wilayah Bali karena adanya perpaduan faktor lokal dan regional, sehingga terjadi hujan lebat hingga kategori ekstrem,” tambah Kadek.

Fenomena ini juga dikaitkan dengan perubahan iklim global, yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi dan memperkuat potensi terbentuknya cuaca ekstrem.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, menjelaskan bahwa bencana banjir bandang yang terjadi bukanlah hasil dari satu penyebab tunggal.

Baca Juga :  Wagub Bali Giri Prasta Ajak Krama Desa Adat Gunung Kangin Perkuat Adat Istiadat, Agama, Tradisi, dan Seni Budaya Bali

“Tidak ada bencana yang penyebabnya tunggal. Kuncinya, ada kerentanan yang bertemu dengan ancaman,” tegasnya.

Ia menjabarkan, hujan ekstrem pada 9–10 September mencapai 390 mm per hari, padahal batas ekstrem hanya sekitar 150 mm per hari. Kondisi ini diperparah oleh gelombang pasang lebih dari 2 meter di pesisir selatan Bali yang menyebabkan aliran sungai menuju laut tersumbat.

“Ketika debit air tinggi dan aliran sungai terhambat gelombang pasang, maka limpasan air kembali ke daratan dan menyebabkan banjir bandang,” jelasnya.

Selain faktor alam, kondisi lingkungan dan tata ruang juga menjadi penyumbang utama kerentanan. “Banyak masyarakat tinggal di zona rawan banjir, bahkan ada bangunan yang menjorok ke badan sungai. Area tutupan lahan juga bermasalah, sehingga air hujan langsung mengalir ke sungai tanpa ada resapan,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Agung Teja menekankan pentingnya sistem peringatan dini untuk sungai-sungai di Bali. Ia menyebut ada 391 sungai yang melintasi wilayah permukiman, dengan empat di antaranya berada di area sangat rentan.

“Perlu sistem peringatan dini yang lebih efektif, melibatkan pemerintah daerah, pusat, hingga dunia usaha. Saya juga berharap dukungan dari DPR, khususnya Komisi VIII, untuk membantu alokasi anggaran dalam penguatan mitigasi bencana di Bali,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Made Rentin, memaparkan bahwa pemerintah provinsi telah menyiapkan langkah antisipatif pasca banjir. Salah satunya melalui penguatan pengelolaan tata ruang, sistem drainase, serta upaya rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) yang rusak akibat pembangunan tidak berkelanjutan.

“Banjir ini menjadi peringatan bahwa perubahan iklim nyata dampaknya di Bali. Pemerintah akan memperkuat strategi adaptasi berbasis lingkungan agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.

Baca Juga :  Proyek Penataan Pantai Samigita Disorot, Polisi Awasi Ketat

(jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here