DPRD Karangasem Soroti Pengelolaan Sampah di Purwakerti, Mesin Sampah Rusak, Truk Sampah Mangkrak

0
393

Balinetizen.com, Karangasem –

 

Komisi I DPRD Karangasem menyoroti tata kelola TPST di kawasan Banjar Dinas Lebah, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem. Mobil truk angkut sampah mangkrak, kendaraan Viar teronggok. Bahkan mesin olah sampah seharga Rp181 juta rusak.

Ketua Komisi I DPRD Karangasem l, I Nengah Karyawan, bersama anggota turun ke lokasi, Kamis (16/10/2025). Karyawan mengaku ke lapangan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat tentang pengelolaan sampah yang tidak lagi beroperasi. Setelah dicek di lokasi, dia berujar ada penerimaan sampah dari pihak hotel untuk dipilah. “Selain itu ada alat-alat pengelolaan sampah yang baru setahun lalu dibeli, saat ini kondisinya rusak. Belinya pakai dana pemerintah, katanya harganya mencapai Rp181 juta,” ungkap Karyawan.

Lebih lanjut disampaikan, ada truk pengangkut sampah tahun 2017 juga mangkrak, termasuk kendaraan angkut merk Viar yang dipinjam di DLH Kabupaten. Meski diduga itu urusan intern Pemerintah Desa Purwakerti, dia menyebut banyak keluhan masyarakat saat pembakaran sampah karena asapnya sampai ke vila-vila sekitar. Penduduk yang punya lahan tanah di sekitar lokasi merasa keberatan, karena sudah ada yang investor mau mengontrak batal karena ada bau dari dampak sampah.

Dia berharap semua pemerintah desa di Karangasem yang punya pengelolaan sampah/TPST seperti ini, bisa mencarikan solusi kepada Pemerintah Kabupaten. Menurutnya, produksi sampah di sini satu hari bisa mencapai dua truk dari lima banjar. Belum lagi sampah pariwisata.

“Ke mana itu harus dibuang? Karena yang di Linggasana Butus Bebandem ditutup. Jadi pengelolaan seperti ini kita tidak bisa sendiri-sendiri, harus betul-betul dari Pemerintah Kabupaten, dari desa cepat menindaklanjuti,” sarannya.

Kadus Banjar Lebah, I Wayan Suartana, mengaku akan melakukan pembahasan di pemerintah desa dengan mengundang tokoh masyarakat. Truk angkut sampah yang mangkrak, dia berujar kebetulan sopirnya berhenti. Perbekel sudah berusaha mencari sopir pengganti tapi belum dapat. Karena selama ini masyarakat tidak mau memilah sampah, Perbekel memberi inisiatif biar masyarakat langsung membawa sampahnya ke lokasi.

Baca Juga :  Pemkab Simalungun Gelar Rakor Pengusulan Proyek Strategis Tahun 2026

“Setelah warga membawa ke sini, para pekerja di TPST memilah yang mana sampah plastik, yang mana organik, itu dipisahkan. Itu yang selama ini dilakukan untuk mengantisipasi membeludaknya sampah,” pungkasnya. nad

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here