Anatomi Ekonomi Energi, Tantangan Ekonomi yang Menghadang

0
63

Ilustrasi

Balinetizen.com, Jakarta

Berdasarkan liputan Majalah Tempo edisi 6 – 12 April 2026, anatomi ekonomi energi Indonesia tahun 2026 diperkirakan sbb: total konsumsi energi 1,52 juta barel per hari (bph). Impor BBM setara minyak mentah 588.900 bph. Impor minyak mentah 326.000 bph. Produksi minyak mentah dalam negeri 605.250 bph. Impor bensin 22,18 juta liter, solar 4,93 juta liter, avtur 1,61 juta liter, LPG 7,47 juta ton.

Impor minyak mentah dari 3 besar negara impor: Arab Saudi 19% yang transportasinya lewat Selat Hormuz, Nigeria 25 % dan Angola 21%. Impor BBM, Singapura 63 %, Malaysia 31%, lainnya 6%. Elpiji, AS 70%, lainnya 30 % dari Bahrain yang transportasinya Selat Hormuz.

Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi mengatakan bahwa dari anatomi ekonomi energi di atas, ketergantungan impor energi begitu tinggi, dengan kenaikan harga minyak mentah 57 persen lebih tinggi dari asumsi APBN 70 dolar AS per barel.

Menurut Jro Gde Sudibya, tantangan ekonomi Indonesia yang menghadang ke depan sangatlah berat.

Dikatakan, penentuan timing harga BBM dan besaran kenaikannya, untuk membuat ekonomi dalam negeri tidak terlalu bergejolak, inflasi tak terkendali, risiko kelangkaan pasokan energi dan APBN tidak “jebol”.

“Membangun persepsi pelaku ekonomi: investor sektor riil, para pelaku pasar uang dan modal, APBN tetap dikelola prudent (hati-hati) sehingga nilai rupiah stabil, investasi luar negeri terjadi, tidak terjadi “capital out flow” massif,” katanya.

Dikatakan, Pemerintah tidak mesti ngotot mempertahankan investasi boros yang menguras kekayaan negara dan “menjebol” APBN 2026.

Menurut Jro Gde Sudibya, perlunya tranparansi dalam investasi Danantara, karena investasi ini merupakan “off balance sheet”, investasi pemerintah yang tidak dicatat dalam APBN, catatan ekstra komptabel.

Baca Juga :  Empat tokoh Khilafatul Muslimin diciduk

” DPR semestinya melakukan pengawasan lebih ketat dan juga kerja audit BPK,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here