Marmar Herayukti Percantik Monumen Puputan Badung Dengan Diorama Logam

0
3821

Balinetizen.com, Denpasar-

Seniman Bali Marmar Herayukti mempersembahkan karya monumental terbarunya, “Diorama Puputan Badung,” yang kini melengkapi Patung Pahlawan di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali. Karya seni rupa ini merupakan reinterpretasi visual kontemporer dari peristiwa heroik Puputan Badung 1906, yang menjadi puncak perlawanan Kerajaan Badung terhadap pasukan kolonial Belanda. Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara sangat menyambut baik dengan rampungnya revitalisasi Monumen Perjuangan Puputan Badung termasuk diorama baru yang diresmikan pada Jumat, 14 November 2025, bertepatan dengan Hari Suci Sugihan Bali.

Putu Marmar Herayukti atau yang akrab disapa Marmar adalah seorang seniman multitalenta asal Banjar Gemeh, Denpasar, Bali, kelahiran 13 September 1983. Ia merupakan putra asli Bali yang dikenal memiliki semangat eksplorasi dan karakter seni yang berbeda dari kebanyakan seniman di wilayahnya. Ketertarikan dan kemampuanya dalam seni dipercayakan untuk menggarap patung pahlawan karya maestro patung Indonesia Edhi Sunarso (2 Juli 1932 – 4 Januari 2016). Sebelumnya patung tersebut merupakan hasil rancangan tiga insinyur muda yaitu, Ir I Made Gede Sudharsana, almarhum Ir Ibnu Sudiro, dan Ir Widnyana Sudibya pada tahun 1978 yang menggambarkan kepahlawanan rakyat Bali dalam perang heroik melawan pasukan kolonial Belanda.

Dalam proses kreatifnya, Marmar Herayukti melakukan riset mendalam selama berbulan-bulan, melibatkan pendapat ahli sejarah, budaya, sastra, arsitektur Bali, serta anggota keluarga Puri dan tim pengarsipan Edhi Sunarso. Risetnya mencakup penelusuran lokasi bersejarah dan penelitian artefak era Puputan, termasuk yang baru dikembalikan oleh pemerintah Belanda. “Penelitianya kurang lebih satu tahun delapan bulan, jadi risetnya dibangun dari awal sebelum perancangan sampai itu sedang dikerjakan pun risetnya masih berjalan,” ujar Marmar.

Marmar Herayukti ingin memunculkan detail cerita ke dalam detail tiga dimensi untuk melengkapi potongan sejarah yang telah ada. Selain itu, Marmar Herayukti berharap karya ini dapat membangun fondasi generasi muda untuk meneruskan rasa cinta terhadap sejarah dan identitas budaya Bali. “Karena ini adalah cerita yang menjadi sumber kebanggaan, sekarang kalau dipandang akan menyayat hati, tetapi setelah itu akan ada rasa bangga yang muncul karena saya mengalami sendiri ketika melakukan riset sejarah Puputan Badung,” tambah Marmar.

Baca Juga :  Dukung Program Stimulus Pemerintah, ASDP Beri Diskon Hingga 19% untuk Liburan Akhir Tahun

Proses penciptaan diorama ini melibatkan 20 anggota tim produksi yang bekerja sama dengan sejarawan, budayawan, arsitek Bali, keluarga Puri, serta keluarga Edhi Sunarso. Setiap panel diorama dibuat dengan teliti dan sepenuhnya dengan tangan, kemudian dicor dalam logam , proses yang melambangkan keteguhan dan keabadian. Relief yang dihasilkan menampilkan lapisan adegan konfrontasi, upacara, hingga transendensi, mengajak pemirsa menapaki perjalanan visual yang menjembatani masa lalu dan masa kini.

Penataan baru Monumen Puputan Badung juga menonjolkan aspek inklusivitas dengan menghadirkan fasilitas ramah disabilitas. Monumen kini dilengkapi ramp dan guiding block bagi penyandang tunanetra dan tunadaksa, hasil rancangan konseptual Marmar Herayukti. “Tim kami juga tengah menyiapkan fitur voiceover sebagai dukungan bagi penyandang tuna netra. Karena bagi kami, penyandang disabilitas memiliki peran yang sama pentingnya dalam sejarah perlawanan Bali. Kekuatan sejati tidak terletak pada fisik, tetapi pada semangat yang tidak pernah padam,” terang Marmar.

Marmar juga menjelaskan revitalisasi ini merubah arah patung yang dulunya menghadap ke selatan dan sekarang menghadap utara atau kejalan. Alasannya karena mempunyai makna menghadap ke Puri Denpasar dan menghadap kejalan agar menjadi perhatian orang banyak. “Jadi letak pelinggih purinya di situ, lalu saya anggap ini kesepakatan perjuangan antara rakyat dan pemimpin untuk melakukan pertahanan negara, agar monumen ini teriakannya lebih lantang, dan menghadap kejalan agar menarik perhatian orang yang lewat agar menyimak apa yang ada di areal itu,” jelas Maramar.

Diorama ini dirancang terbuka tanpa kaca dan berbeda dari yang lain, umumnya ketika ada karya seni di ruang publik akan ada pengamanan khusus. Namun Marmar berpikir berbeda, ketika membuat pengamanan itu dalam bentuk penjagaan sebenarnya kesadaran itu tidak pernah tumbuh. “Tantangannya adalah mungkin saja ada orang orang berniat tidak baik, tetapi saya lebih berfokus pada bagaimana cara mengubah yang tidak baik itu menjadi memiliki rasa untuk memiliki itu challenge kita bersama,” imbuhnya.

Baca Juga :  Wawali Arya Wibawa Pimpin Apel Peringatan Puputan Margarana ke-79 Harapkan Peringatan ini Dimaknai Sebagai Upaya Memperkokoh Persatuan Bangsa

Marmar berharap “Diorama Puputan Badung” akan berdiri sebagai jembatan antargenerasi, pengingat akan ketangguhan budaya Bali sekaligus persembahan bagi masa depannya.

 

BN-RADHA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here