Tantangan Kepemimpinan Buleleng dalam Membangun Masa Depan buat Warganya

0
195

 

Balinetizen.com, Buleleng

Pemimpin Buleleng keren, membangun visi masa depan buat warganya. Secara fisosofi, pemimpin menyiapkan masa depan buat warganya, menjadi “batu penjuru”buat rakyatnya dalam menyiapkan masa depannya. Prasasti kepemimpinan Bali yang “tersimpan” di Den Bukit memberikan inspirasi kepemimpinan yang berempati buat rakyatnya.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi dan kecenderungan masa depan, Selasa 25 Nopember 2025.

Dikatakan, bisa disimak jejak kepemimpinan menyebut beberapa: Pucak Sinunggal, Bukit Lemukih dan Segara Labuan Aji. Karya berkesenian dari maestro ternama Gede Manik seperti tari Legong Terunajaya dan karya gong yang lain pantas segera dipatenkan.

Dicontohkan, karya kuliner unggul seperti Syobak Singaraja patut segera dirintis. Urutan asap dengan equity brand Urutan Tajun tidak kalah lezat dan juga heginies dibanding dengan steak yang mendunia Kobe Steak (Jepang), dan Bologna Steak (Italia).

“Menikmati Bologna Steak dengan pemandangan kota Roma, barangkali setara dengan rasa maknyus Urutan Tajun di pantai Lovina. Seorang warga Tajun yang menikmati Kobe Steak di Kobe juga bercerita sama,” kata Jro Gde Sudibya.

Menurut Jro Gde Sudibya Kopi Robusta Tajun, di ketinggian 800 – 1,000 meter dpl, tidak kalah kualitasnya dengan kopi Kintamani, tetapi dihargai oleh eksportir di Singaraja dengan harga 20 persen lebih murah. Kemampuan membangun brand akan menentukan harga jual produk pertanian, industri dan bisa memperbaiki kesejahteraan para produsen.

Dikatakan tantangan bagi Buleleng untuk memperkuat brand, berbarengan dengan upaya berkelanjutan dalam peningkatan produktivitas, teknologi pasca panen dan terobosan pemasaran di era ekonomi digital.

“Meniru jargon Buleleng “Buleleng Paten”, menyitir lirik sebuah lagu: “the dreams comel true”,” kata Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi

Baca Juga :  Regenerasi Kepemimpinan, Penguatan Kiprah ACT untuk Kemanusiaan

Dikatakan, memimpin Buleleng ke depan semestinya punya kesadaran kesejarahan tentang Buleleng di masa lalu. Sebut saja peran ekonomi dari pelabuhan Buleleng sebagai penggerak ekonomi Bali secara keseluruhan. Turis pertama datang ke Bali, awal tahun 1920’an, turis Belanda mendarat di pelabuhan Buleleng menuju Tejakula dan kemudian Cintamani.

Menurut Jro Gde Sudibya, pengelana Spanyol Michel Covarubias mendarat tahun 1935 mendarat di pelabuhan Buleleng naik sepeda ke Selatan, Badung, menyusun buku yang melegenda “Island of Bali” momentum pertama promosi pariwisata Bali.

Dikatakan, tahun 1940 – 1970, pelabuhan Buleleng menjadi “point of export” dari komoditas ekspor Kopi untuk pasar Eropa dan Sapi untuk pasar Hong Kong dan Singapura. Membentuk kelas menengah Bali pasca kemerdekaan.

“Berangkat dari pengalaman sejarah diatas, dan ethos kerja yang mendukung, sudah semestinya Pemimpin Buleleng sekarang menyusun Peta Jalan dan Cetak Biru Kebijakan dalam membangun visi masa depan Buleleng ke depan,” kata Jro Gde Sudibya.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here