Mengantisipasi Risiko Banjir Bandang Sasih Kaulu, Februari 2026

0
330

Ilustrasi

Balinetizen.com, Denpasar

Sekarang ini hanya tinggal slogan : respek pada alam = respek pada kehidupan. Tetua Bali dulu bangga menjadi petani, merawat alam dengan suka cita, mengambil sari dari alam untuk merawat kehidupan berkelanjutan dengan peningkatan kesejahteraan terukur.

Hal tersebut dikatakan Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat: ekonomi, lingkungan dan kecenderungan masa depan, Jumat 26 Desember 2025.

Menurutnya, sekarang, hampir sebagian besar anak muda enggan menjadi petani dan bahkan menghindarinya.

“Bahkan tanah begitu mudah dijual, digadaikan, dikontrakkan tanpa rasa bersalah dan bahkan bangga untuk kemajuan ekonomi materialistik hedonis. Upaya menyelamatkan Subak sekadar slogan yang kemudian terserap di Karang Suwung. Kondisi di tingkat nasional “sekali tiga uang”,” katanya.

Menurut jurnalisme data Kompas, selama 34 tahun 1990 – 2024 penebangan hutan di Sumatera seluas 1,2 juta hektar setara 2 kali luas pulau Bali. Konversi lahan untuk industri sawit 690.777 ha, HTI 69,773 ha, perkotaan 9.666 ha, tambang 2.160 ha. Sisanya untuk pertanian, hutan bakau dan karamba. Hutan lindung, taman nasional dibabat untuk industri, terjadi bencana ekologi yang dashyat.

Bagaimana dengan Bali? Bali menurut Jro Gde Sudibya, “setali tiga uang” tutupan hutan tinggal 18 persen. Pasca banjir bandang 10 September 2025, terbuka kotak pandora Bali memasuki darurat dan krisis lingkungan, Bali “benyah latig”.

Lihat saja kondisi sekitar danau dan Gunung Batur, kawasan dari Labuan Sait – Bukit Uluwatu, kondisi semua DAS, kawasan Dalem Nusa – Goa Giriputri – Puncak Mundi. Tidak terbayangkan skala bencana sasih kaulu Februari 2026. Ada yang peduli?.

Jurnalis Nyoman Sutiawan

Baca Juga :  Sunar Sanggita Gelar Konser Inklusif “Satu Cinta untuk Semua” di Denpasar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here