Ilustrasi
Balinetizen.com, Denpasar
Bali Mengalami Darurat Lingkungan, Menemukan Kembali Kearifan yang Terpendam dalam DAS Tukad Pakerisan Menjadi Penting.
Hal tersebut Jro Gde Sudibya, pengamat lingkungan dan kecenderungan masa depan, Jumat 26 Desember 2025.
Dikatakan DAS Tukad Pakerisan memendam sejarah yang panjang. Sejarah spiritualitas, kepemimpinan yang kemudian dibumikan dalam sistem pertanian yang menggambarkan ethos kerja pertanian nan kaya.
Ditemukan oleh Rsi Markandya di Ulu, bisa disimak catatan sejarah di Pura Mengening, ring ulu dari Pura Gunung Kawi yang kaya peninggalan arkeologi dari raja istri – suami Gunapriya Dharmapatni – Udayana Warmadewa.
“Dari perspektif kepemimpinan, sebut saja dari Manukaya Let – Tirtha Empul – Mengening, kental jejak sejarah kepemimpinan raja Bali Mula Cri Aji Jayapangus,” katanya.
Dikatakan, DAS Tukad Pakerisan dari Ulu sampai hilir Segara Lebih merupakan “living monument” dari kepemimpinan istri – suami di atas.
Menurutnya, dalam sejarah Indonesia kontemporer, Presiden Soekarno yang menyatakan diri reinkarnasi dari Prabu Airlangga, melakukan revitalisasi di Ulu, mendirikan Istana Tampak Siring yang menyejarah. Melakukan ekspansi terhadap idealisme dari raja Gunapriya Dharmapatni – Udayana Warmadewa.
Dikatakan, Semeton Tampak Siring mulai dari pasar sampai lingkungan Istana, yang lahir di dasa warsa 1940 – 1950’an menjadi saksi bagaimana Presiden Soekarno memperoleh inspirasi dalam penyusunan pidato kenegaraan setiap 17 Agustus yang kemudian dibukukan dalam Manipol – Usdek.
Seorang pakar lingkungan hidup dari California University dalam presentasi ilmiah yang di Denpasar di awal tahun 1990’an mengagumi apa yang disebutnya dengan Peradaban Lembah Tukad Pakerisan -Pakerisan Valley Civilisation-, jejak sejarah: spiritualitas, kepemimpinan yang dibumikan dalam sistem kehidupan yang bertumpu pada sistem pertanian, ramah pada lingkungan, menjamin keberlanjutan dengan masyarakatnya hidup dengan menjaga harmoni.
“Inilah tantangan bagi generasi sekarang untuk menemukan kembali kearifan ini, dan sekaligus menyelamatkan DAS Tukad Pakerisan yang tercinta,” kata Jro Gde Sudibya, pengamat lingkungan dan kecenderungan masa depan.
Jurnalis Nyoman Sutiawan

