Kinerja PDAM Dinilai Sehat, Komisi III Minta Kebocoran Air Terus Ditekan

0
314
Komisi III DPRD Karangasem mengapresiasi kinerja Perumda Tirta Tohlangkir (PDAM) sepanjang tahun 2025 dalam rapat kerja evaluasi kinerja dan pembahasan rencana kerja tahun 2026 yang digelar di ruang Bamus, Senin (26/1).

Balinetizen.com, Karangasem –

Komisi III DPRD Kabupaten Karangasem mengapresiasi kinerja Perumda Tirta Tohlangkir (PDAM) sepanjang tahun 2025. Apresiasi tersebut disampaikan dalam rapat kerja evaluasi kinerja dan pembahasan rencana kerja tahun 2026 yang digelar di Ruang Bamus DPRD Karangasem, Senin (26/1).

Rapat kerja dipimpin Ketua Komisi III DPRD Karangasem, I Wayan Sunarta, dan dihadiri Direktur Perumda Tirta Tohlangkir, I Komang Haryadi Parwata, beserta jajaran manajemen.

Sunarta menilai secara umum kinerja Perumda Tirta Tohlangkir selama tahun 2025 berjalan sangat baik. Hal tersebut terlihat dari peningkatan laba serta kondisi perusahaan yang dinilai telah berada pada posisi sehat.

“Secara umum kami sangat mengapresiasi kinerja Perumda Tirta Tohlangkir selama 2025 dan rencana kerja 2026. Kinerja direktur sangat bagus. Ini terlihat dari laba tahun 2024 yang dibukukan pada 2025 sekitar Rp4 miliar lebih. Pada 2025 dirancang mencapai Rp5 miliar dan laba tersebut akan dibukukan pada 2026. Tahun depan sudah masuk laba murni,” ujar Sunarta.

Meski demikian, Komisi III tetap menekankan pentingnya upaya penurunan kebocoran air atau non revenue water (NRW). Berdasarkan catatan DPRD, tingkat kebocoran air PDAM Tirta Tohlangkir masih berada di bawah ambang batas nasional.

“NRW masih di bawah 25 persen. Ini patut diapresiasi. Bahkan pada Agustus lalu tercatat sekitar 22 persen, masih di bawah rata-rata nasional. Namun upaya penurunan harus terus dilakukan,” tegasnya.

Selain itu, Sunarta juga mendorong agar pengembangan jaringan pelayanan air bersih tidak hanya terfokus di Kecamatan Kubu sebagai titik sentral pengembangan, tetapi juga diperluas ke kecamatan lainnya di wilayah Karangasem.

Sementara itu, Direktur Perumda Tirta Tohlangkir, I Komang Haryadi Parwata, mengakui bahwa kebocoran air masih menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun pihaknya terus melakukan sosialisasi serta koordinasi dengan tokoh masyarakat untuk mempercepat pelaporan kebocoran di lapangan.

Baca Juga :  YLKI nilai ganjil genap tak efektif tekan kemacetan dan polusi Jakarta

“Kebocoran air bisa saja terjadi. Namun kami selalu berkoordinasi dengan tokoh masyarakat agar segera melaporkan. Karena pencurian air juga masuk dalam ranah pidana,” jelasnya.

Ia menambahkan, laba tahun 2025 memang belum disetorkan dan baru akan direalisasikan pada tahun 2026. Saat ini kondisi perusahaan dinilai sudah sehat dan telah memenuhi kriteria rasio keuangan atau Ratio Cash Flow (RCF).

Pada tahun 2026, Perumda Tirta Tohlangkir menargetkan laba sebesar Rp5 miliar yang akan dibukukan setelah memperoleh hasil audit dari BPKP. Selain itu, upaya identifikasi kebocoran air terus dilakukan meskipun PDAM Tirta Tohlangkir belum memiliki sistem pendeteksi kebocoran modern seperti yang diterapkan di PDAM Surabaya.

“Kami terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan identifikasi kebocoran. Ke depan, sistem pengendalian akan terus kami perbaiki,” tandasnya. (RED-MB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here