Renungan Raina Purnama Kaulu, Bali di Masa Krisis, “Tetuek Kayun” ke Pura Besakih yang Harus Dirawat dan Dijaga

0
731

Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, bermukim di Desa Tajun “kaja kangin” Bukit Sinunggal, Den Bukit, Bali Utara

 

Hari ini, 2 Februari 2026, Raina Purnama Kaulu, piodalan ring Pura Pedharman Pasek Besakih. Menurut catatan sejarah, di Pura ini, ring Meru Tumpang 7 “distanakan” pakulun Ida Bharata Mpu Semeru yang memberikan keteladanan bagaimana semestinya Pura Besakih dirawat dan dijaga kesuciannya, memberikan inspirasi dan spirit tanpa henti bagi “wong” Bali di manapun mereka berada. Lingha Meru Tumpang 7 ini, selayaknya “disungsung” oleh krama Bali tanpa memperhatikan garis geneologis.
Pedarman ini, terus mengingatkan akan perjalanan sejarah Pura Besakih yang panjang, tentang keberadaan Pura Catur Lawa: Pande, Pasek, Dukuh, Penyarikan, yang di era titik kritis menegangkan antara hidup dan mati, krama pengempon di empat Pura ini berjuang mati-matian dari serbuan Rakryan Ki Patih Gajahmada dan pasukannya untuk menguasai Besakih dengan cara-cara kekerasan. Serbuan tsb.digagalkan, dalam pertempuran keras di jaba Sisi Pura Manik Mas, yang sekarang menjadi “Monumen nan angkuh”, sekaligus “ngungkulin” Pura Titi Gonggang, tempat parkir bertingkat yang sekaligus simbol dari profanisasi Besakih.
Konon jumlah korban paling banyak warga Pande, kemudian dilahirkan kesepakatan untuk mengenang perjuangan ini, Pemangku Lingsir Pedarman Pande yang “ngagem” Tingkeling Gentha Pinara Pitu dalam prosesi “pengawalan” pakulun Ida Bhatara Lingsir dan rombongan “tedun” ke Segara Watuklotok yang Sakral itu.

Bali di Tengah multi krisis: ekologi, keteladan, etika-moral, “sesana/dharma kriya”, sudah semestinya menengok kembali sejarah Pura Besakih, bagaimana mesti dibela, dirawat kesuciannya, sehingga tetap menjadi “tetuek kayun” bagi “wong” Bali berperilaku dan memaknai kehidupan. Ada sejumlah nilai yang pantas dicatat di sini, pertama, keberanian kuat tanpa pamrih dengan kerelaan berkorban tingkat tinggi untuk “nindihin” gumi Bali, sebagaimana diteladankan oleh generasi terdahulu untuk mempertahankan Besakih. Kedua, diperlukan kualitas kependetaan tingkat tinggi, secara spiritual mumpuni, dengan kemampuan kepemimpinan, dan organisasi yang handal, yang membuat pemimpin Bali segan, seperti yang diteladankan oleh pakulun Mpu Semeru.

Baca Juga :  Polisi Tangkap Pembakar Lahan Gambut untuk Kebun Cabai

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here