Akses Pura Segara Giri Wisesa Sidakarya Dibuka, Arah Pengembangan ke Ekowisata

0
529

 

 

Balinetizen.com, Denpasar

 

Desa Adat Sidakarya menggelar prosesi Mendem Pedagingan sebagai rangkaian Karya Melaspas lan Mendem Pedagingan Pelinggih di Pura Segara Giri Wisesa, Pantai Sidakarya, Senin (16/2/2026). Prosesi sakral ini bertepatan dengan Rahina Tilem Kawolu.

Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya penantian panjang krama adat di Kota Denpasar, khususnya warga Desa Adat Sidakarya, yang selama ini mengharapkan kemudahan akses untuk bersembahyang di Pura Segara Giri Wisesa.

Tak hanya prosesi keagamaan, acara ini juga dirangkaikan dengan pembukaan akses jalan baru menuju pura yang terletak di pesisir Pantai Muntig Siokan, wilayah Desa Adat Sidakarya.

Bendesa Adat Sidakarya, Ketut Suka, mengatakan bahwa dalam momentum ini juga dilakukan pemanfaatan lahan milik Pemerintah Kota Denpasar yang diberikan kepada Desa Adat Sidakarya.

“Saat ini kami diizinkan untuk memanfaatkan lahan tersebut terlebih dahulu. Penyerahan atau hibah secara resmi baru bisa dilakukan setelah satu tahun. Nantinya akan dipertimbangkan apakah kawasan ini bisa dibuka untuk umum,” ujar Ketut Suka kepada awak media.

Ia menambahkan, kawasan Pura Segara Giri Wisesa ke depan disiapkan sebagai pariwisata religi, khususnya bagi umat Hindu di Denpasar.

“Untuk pariwisata religi masih kita kaji, karena secara administrasi perizinan belum sepenuhnya kita miliki,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD Kota Denpasar, Wayan Suadi Putra, menyebut pembukaan akses baru ini sangat membantu umat yang hendak bersembahyang ke Pura Segara Giri Wisesa.

Sebelum akses ini dibuka, pengempon pura harus menempuh jalur tidak langsung dengan menyeberang melalui wilayah Desa Adat Sanur Kauh.

“Biasanya masuk lewat Taman Inspirasi atau menggunakan perahu dari Pantai Mertasari,” jelas politisi PDI Perjuangan tersebut.

Baca Juga :  Kemenkes Serahkan Bantuan untuk Penanganan Covid-19 di Bali

Saat ini, Pura Segara Giri Wisesa menaungi tiga ritual utama, yakni melasti, ngayud atau penghayutan, serta pengluatan (ritual pembersihan diri).

“Untuk sementara fokus kami adalah kegiatan religi. Ini juga menjadi bentuk kerja sama keagamaan dengan Tahura Ngurah Rai,” ujarnya.

Terkait pengembangan ke depan, Suadi Putra menegaskan bahwa arah yang memungkinkan bukan pariwisata massal.

“Kalaupun nanti ada pengembangan, konsepnya lebih ke ekowisata berbasis religi, bukan wisata komersial,” tandasnya.

(Jurnalis: Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here