Denpasar ‘Dikepung’ 100 Titik Banjir Per 24 Februari 2026, Petugas Siaga 24 Jam

0
203

Balinetizen.com, Denpasar

Hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur Bali sejak Sabtu (21/2/2026) memicu banjir di sejumlah titik di Kota Denpasar. Hingga Selasa (24/2/2026), tercatat sebanyak 100 titik meminta bantuan ke Pusdalops BPBD Kota Denpasar.

Kepala Pusdalops BPBD Kota Denpasar, Made Antara, menjelaskan pihaknya terus melakukan penanganan maksimal, khususnya penyedotan air di wilayah yang masih tergenang cukup tinggi.

Adapun sejumlah titik yang belum sepenuhnya surut antara lain kawasan Danau Tempe, Pedungan, Kesari, dan Bumi Ayu.

“Kita siaga 24 jam yang utama kita lakukan penyelamatan, evakuasi dan penyedotan, anggota yang di kerahkan dari TRC BPBD provinsi Bali, BPBD kota Denpasar, Dinas PU, dan Dinas Kebakaran,” ungkapnya, Rabu (25/2/2026) malam.

Terkait keluhan warga mengenai kurangnya alat penyedotan, Made Antara mengatakan seluruh masyarakat terdampak meminta bantuan secara bersamaan.

“Untuk kondisi penyedotan semua masyarakat terdampak meminta untuk bantuan penyedutan, karena banyaknya titik genangan jadi ada yang belum bisa kita tangani dan saat ini anggota kami melakukan penyedotan di rumah dampak banjir di Pedungan,” jelasnya.

Ia pun meminta masyarakat untuk bersabar karena petugas masih berjibaku di lapangan.

“Kami mohon masyarakat bersabar karena semua anggota masih dalam penangan di lapangan,” pintanya.

Hari Kedua, Banjir di Kesari dan Bumi Ayu Belum Surut

Memasuki hari kedua banjir yang melanda kawasan Kesari dan Bumi Ayu, Sanur, genangan air yang sebelumnya mencapai sekitar satu meter belum sepenuhnya surut hingga Rabu (25/2/2026).

Pantauan di lokasi, ketinggian air masih setinggi lutut orang dewasa. Sejumlah warga dan wisatawan mancanegara (WNA) tetap bertahan di rumah maupun penginapan meski wilayah tersebut masih tergenang.

Menariknya, beberapa WNA memilih tidak dievakuasi karena telah lama menetap dan merasa menjadi bagian dari lingkungan setempat.

Baca Juga :  Semeton Jaya Wibawa (Sejiwa) Gelar Donor Darah Dan Penyerahan Sembako

Sikap serupa juga ditunjukkan warga lokal yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan itu.

Wayan Kecor (65), warga yang sudah sekitar 40 tahun menetap di Bumi Ayu, menyebut banjir tahunan sebagai hal yang biasa, meski kali ini menjadi yang terparah.

“Saya tinggal di sini sudah sekitar 40 tahunan. Setiap tahun memang begini, sudah biasa jadinya. Walau banjir, saya tetap di sini, tidak pernah keluar.

Tapi ini paling parah. Dulu belum pernah airnya seperti ini. Penyebabnya kurang tahu. Mungkin bisa jadi karena sistem drainase, atau karena hujannya lebat jadi airnya full ke sini. Dua hari lalu hujan non-stop sampai pagi,” ujarnya.

Ia mengaku tetap bertahan karena memiliki warung di lokasi tersebut.

“Saya di sini ada warung. Takut kalau ditinggal, nanti ada apa-apa dan tidak ada orang. Istri dan anak di Sindhu. Saya tetap tinggal di sini, karena keadaan banjir. Kalau mau tidur baru pulang ke Sindhu.

Kawasan Bumi Ayu sendiri disinyalir merupakan area cekungan yang kerap disinggahi banjir di musim hujan.

“Karena ini daerah cekungan, ya mau bagaimana. Saya tidak bisa ngomong apa-apa. Tidak boleh ngomong berlebihan walau memang keadaannya begini. Ya sudah, pasrah. Sudah biasa,” ujarnya.

Biasanya genangan surut dalam satu hingga dua hari saat hujan lebat. Namun banjir kali ini bertahan lebih lama.

“Biasanya satu hari sudah surut, tapi yang terakhir ini lama,” jelasnya.

WNA Santai, Ada yang Tetap Antar Anak Sekolah

Mariana dari Cyrus mengaku tetap santai menghadapi banjir saat dirinya tengah berada di Sanur.

“Kami tinggal di Sanur selama beberapa hari, dan sekarang sedang banjir, tidak apa-apa, kami akan pergi ke Nusa Dua sekarang. Tentu saja ini kali kedua saya di sini, tentu saja ya begitulah adanya. Terakhir kali saya datang, saya mengalami hal-hal lain, sekarang mengalami ini, saya tidak punya pendapat,” ujarnya.

Baca Juga :  Mengejutkan! Dukungan Minimal Bakal Paslon Pilkada Bali 2024 Nihil

Sementara itu, seorang WNA asal Australia bernama Jordan juga menolak dievakuasi dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

“No, no, we live here. I take mau nganter anak sekolah. Kenapa gak evakuasi? Everyone okay, because I live in 43 years. Is it bad condition? It’s okay, Bali still paradise,” katanya.

Meski demikian, ada pula wisatawan yang memilih pindah sementara ke penginapan lain di lokasi yang lebih aman.

Sebagaimana diketahui, hujan dengan intensitas tinggi melanda Bali tanpa henti sejak Sabtu (21/2/2026), dengan puncak terjadi pada Senin (23/2/2026) hingga Selasa (24/2/2026). Hingga Rabu pagi, genangan di kawasan Kesari dan Bumi Ayu, Sanur, belum sepenuhnya surut dan warga tetap bersiaga apabila hujan kembali turun deras.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan terpantau pagi ini Kamis (26/2/2026) hujan deras kembali mengguyur wilayah Kota Denpasar.

 

(jurnalis : Tri Widiyanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here