Polemik Nyepi dan Pelajaran Sejarah Gelap Bali yang Terlupakan

0
363

Oleh: I Dewa Putu Gandita Rai Anom

Polemik yang muncul menjelang Hari Raya Nyepi tahun ini kembali membuka diskusi lama tentang bagaimana sesungguhnya keunikan Bali dipahami. Seruan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali yang membuka ruang pelaksanaan takbir pada malam Nyepi menimbulkan respons beragam di tengah masyarakat. Bagi sebagian orang, ini dipandang sebagai bentuk toleransi. Namun bagi banyak masyarakat Bali, kebijakan itu menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah kekhasan spiritual Bali benar-benar telah dipahami dengan baik?

Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, perbedaan tentu bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Mahatma Gandhi pernah mengingatkan bahwa kehidupan bersama tidak mungkin dibangun dengan memaksakan keseragaman. Bung Karno juga menyampaikan gagasan yang serupa ketika menjelaskan makna kebangsaan Indonesia: taman yang hanya memiliki satu warna tidak akan pernah indah dipandang. Keindahan justru lahir dari keberagaman yang hidup berdampingan secara harmonis.

Dalam semangat itulah, keunikan Bali sesungguhnya perlu dipahami.
Pertanyaan tentang kekhasan Bali sebenarnya pernah dijawab oleh sejarah. Sejarawan Geoffrey Robinson dalam bukunya The Dark Side of Paradise mencatat bahwa sejak awal abad ke-20 para administrator kolonial Belanda, ilmuwan Barat, bahkan kalangan zending Kristen sampai pada satu kesimpulan yang sangat jelas: kebudayaan Bali merupakan salah satu sistem peradaban religius paling unik di dunia.

Mereka tidak hanya melihat ritual agama. Mereka melihat sebuah sistem pengetahuan yang menyatukan agama, seni, kosmologi, struktur desa, dan hubungan manusia dengan alam. Seni di Bali bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi bagian dari praktik spiritual yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran itu membuat pemerintah kolonial Belanda mengambil keputusan yang tidak biasa pada masa itu. Aktivitas kristenisasi di Bali justru dibatasi. Para misionaris zending tidak diberi ruang luas sebagaimana terjadi di wilayah lain di Nusantara. Alasannya sederhana namun mendalam: mengubah sistem budaya Bali secara drastis berarti merusak suatu peradaban yang sangat langka.

Baca Juga :  Disdukcapil Denpasar Gelar Jemput Bola Pelayanan, Sasar Titik Keramaian Masyarakat di Ekowisata Subak Sembung

Robinson mencatat bahwa pada masa itu muncul pandangan di kalangan administrator kolonial bahwa jika keunikan Bali hilang, bukan hanya Bali yang kehilangan, tetapi dunia juga akan kehilangan sebuah warisan budaya yang sangat berharga.

Hal yang hampir serupa terjadi pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1940-an. Pemerintah militer Jepang melihat bahwa kekuatan masyarakat Bali terletak pada kehidupan seni dan budayanya. Karena itu mereka justru mengorganisasi kegiatan kesenian dan memberi ruang bagi berkembangnya aktivitas seni tradisional Bali.

Motif politik kedua kekuatan tersebut tentu berbeda. Namun kesimpulan yang mereka capai sama: identitas Bali tidak dapat dipisahkan dari sistem budaya dan spiritualitasnya.

Sejarah ini menghadirkan ironi ketika kita melihat polemik yang muncul hari ini. Nyepi bukan sekadar hari raya keagamaan. Nyepi adalah praktik kosmologis yang dijalankan melalui Catur Brata Penyepian: amati geni, amati karya, amati lelungan, dan amati lelanguan. Esensi dari keempat laku tersebut adalah menghadirkan keheningan total sebagai bagian dari proses penyucian diri dan alam semesta.

Karena itu Nyepi memiliki karakter yang sangat khas. Ia bukan hanya ritual internal umat Hindu, tetapi juga sebuah sistem spiritual yang mempengaruhi seluruh ruang kehidupan di Bali selama satu hari penuh.
Dalam konteks inilah muncul pertanyaan yang juga patut direnungkan: mengapa lembaga-lembaga Hindu relatif sunyi dalam menjelaskan keunikan tersebut kepada publik yang lebih luas?

Keheningan lembaga keagamaan sering kali menimbulkan kesan bahwa persoalan ini hanya menjadi perdebatan masyarakat biasa. Padahal yang dipersoalkan sebenarnya bukan semata-mata soal toleransi antarumat beragama, melainkan bagaimana kekhasan peradaban Bali dijelaskan dengan tepat kepada semua pihak yang hidup di dalamnya.

Toleransi tentu merupakan nilai penting dalam kehidupan berbangsa. Namun toleransi juga memerlukan pemahaman terhadap konteks budaya dan spiritual suatu masyarakat. Tanpa pemahaman tersebut, kebijakan yang dimaksudkan untuk menjaga harmoni justru dapat memunculkan kebingungan baru di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Refleksi Raina Purnama Sadha, Tradisi Spiritualitas yang Merosot, Alam Bali Hancur Lebur "Benyah Latig"

Refleksi ini lahir dari pengalaman panjang penulis dalam dinamika gerakan mahasiswa Hindu pada awal 1990-an. Penulis pernah terlibat sebagai salah satu pendiri sekaligus koordinator Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Udayana (FPMHD Unud) serta menjadi Ketua Umum Panitia Kongres Nasional pertama mahasiswa Hindu yang melahirkan Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) pada tahun 1993.
Pada masa itu, gerakan mahasiswa Hindu tidak hanya berbicara tentang organisasi, tetapi juga tentang kesadaran budaya. Mahasiswa Hindu belajar memahami bahwa Bali bukan sekadar wilayah geografis, melainkan ruang peradaban yang memiliki sistem nilai dan spiritualitas yang sangat khas.
Kesadaran inilah yang mendorong banyak aktivis mahasiswa Hindu pada masa itu untuk melihat bahwa pelestarian budaya Bali bukan semata-mata persoalan adat atau agama, melainkan juga tanggung jawab intelektual.
Hari ini tantangan itu kembali muncul dalam bentuk yang berbeda. Dunia semakin terbuka, masyarakat semakin plural, dan komunikasi berlangsung sangat cepat. Dalam situasi seperti ini, kemampuan menjelaskan keunikan Bali kepada dunia menjadi semakin penting.

Sejarah telah menunjukkan bahwa bahkan para penguasa luar pada masa lalu akhirnya memahami betapa berharganya sistem budaya Bali. Pertanyaannya sekarang adalah: apakah kita sendiri telah menjelaskan keunikan itu dengan cukup baik kepada dunia?

Jika Bali mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan bijaksana, maka keheningan Nyepi tidak hanya akan tetap terjaga, tetapi juga akan terus menjadi salah satu simbol peradaban spiritual yang dihormati oleh dunia.
Puri Taman Sekar Yeh Sumbul, 11 Maret 2026

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here